Transaksi QRIS Kaltim Tembus 103 Juta, Nilainya Rp10,02 Triliun

Adopsi QRIS di Kaltim terus meluas dengan 103 juta transaksi senilai Rp10,02 triliun hingga triwulan II 2026, sementara jumlah pengguna mendekati satu juta dan merchant mencapai lebih dari 910 ribu.

BALIKPAPAN – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus tumbuh pesat. Hingga triwulan II 2026, transaksi QRIS di Kaltim tercatat mencapai 103 juta transaksi dengan nilai Rp10,02 triliun, seiring bertambahnya pengguna dan pedagang yang memanfaatkan sistem pembayaran digital tersebut.

Volume transaksi QRIS tumbuh 95,10 persen secara tahunan, sedangkan nilai transaksinya meningkat 87,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan pembayaran digital semakin melekat dalam aktivitas ekonomi masyarakat Kaltim.

Perluasan ekosistem QRIS juga terlihat dari jumlah penggunanya yang mendekati satu juta orang. Hingga triwulan II 2026, pengguna QRIS di Kaltim mencapai sekitar 948.300 orang, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sekitar 906.600 pengguna.

Pada periode yang sama, jumlah pedagang atau merchant QRIS bertambah dari sekitar 835.300 menjadi 910.700. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku perdagangan dan usaha yang menerima transaksi nontunai berbasis QRIS.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan perkembangan transaksi digital di Kaltim menunjukkan tren positif.

Dalam pemaparannya mengenai perkembangan ekonomi dan digitalisasi transaksi, Robi juga menyampaikan angka transaksi QRIS sekitar 59 juta transaksi dengan nilai Rp8,2 triliun.

“59 juta, kemudian kita Rp8,2 triliun. Jadi cukup positif,” ujar Robi di KPwBI Balikpapan, Selasa (29/09/2026).

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari semakin kuatnya penggunaan sistem pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi daerah. Bank Indonesia (BI) terus mendorong perluasan digitalisasi transaksi agar masyarakat dan pelaku usaha memperoleh layanan pembayaran yang lebih mudah, cepat, aman, dan efisien.

Penguatan sistem pembayaran digital juga berjalan beriringan dengan upaya BI mendorong perdagangan dan investasi melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah. Sinergi tersebut diarahkan untuk memperluas aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat ekosistem transaksi nontunai di Kaltim.

Pertumbuhan QRIS bukan hanya tercermin dari tingginya volume dan nilai transaksi, tetapi juga dari semakin luasnya basis pengguna dan merchant. Kondisi tersebut menunjukkan pembayaran digital semakin diterima dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari perdagangan hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dengan jumlah pengguna yang telah mendekati satu juta orang dan merchant melampaui 900 ribu, perluasan QRIS diharapkan dapat meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas inklusi keuangan, serta membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk masuk ke ekosistem ekonomi digital.

BI bersama pemerintah daerah diharapkan terus memperluas literasi dan infrastruktur pembayaran digital agar pertumbuhan transaksi QRIS dapat diikuti peningkatan keamanan, kemudahan layanan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta pelaku usaha di Kaltim. []

Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *