Trump Naikkan Tekanan Dagang, Kanada Kena Tarif 50 Persen

Kegagalan perundingan perdagangan membuat Donald Trump mengancam memperketat tekanan dagang terhadap Kanada, termasuk melalui tarif 50 persen untuk kendaraan dan suku cadang.

WASHINGTON, D.C. – Ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Kanada kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperketat tekanan dagang terhadap Ottawa menyusul gagalnya perundingan kedua negara. Trump bahkan menyatakan sudah waktunya Kanada diberi “pelajaran”.

Ancaman tersebut muncul setelah AS mengenakan tarif baru sebesar 50 persen terhadap impor dari Kanada senilai sekitar US$20 miliar pada Sabtu (22/8). Kebijakan itu kemudian dibalas Kanada dengan tarif terhadap produk AS dengan nilai impor tahunan sekitar US$20 miliar pada Selasa (25/8).

Trump menilai Kanada tidak memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk membuat AS bergantung pada negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan setelah perundingan perdagangan kedua negara tidak menghasilkan kesepakatan, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Kamis, (27/08/2026).

“Kami sudah memiliki kesepakatan, kesepakatan yang cukup bagus, Anda tahu, lumayan bagus. Mereka tidak memiliki apa pun yang mutlak kita butuhkan, kita bisa tetap berjalan tanpa mereka.”

“Maksud saya, ada beberapa hal yang mungkin sedikit merepotkan, tetapi kita bisa mendapatkannya dari tempat lain. Dan sudah saatnya memberi pelajaran kepada Kanada bahwa mereka tidak bisa lagi melakukan hal ini,” ujar Trump menambahkan dikutip dari Reuters, Kamis (27/8).

Tekanan terhadap Kanada juga diperluas melalui kebijakan sektor otomotif. Trump mengumumkan tarif sebesar 50 persen terhadap kendaraan dan suku cadang otomotif Kanada yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari.

Kanada menilai penolakan AS memberikan keringanan tarif untuk kendaraan berukuran sedang dan berat menjadi salah satu faktor yang membuat negosiasi perdagangan kedua negara gagal mencapai kesepakatan.

Ketegangan itu turut diperkuat oleh pernyataan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. Ia menyebut saat ini tidak terdapat jalur komunikasi terbuka dengan pemerintah Kanada dan menegaskan Washington akan merespons apabila Ottawa kembali mengambil langkah pembalasan.

“Jika ada tindakan balasan lebih lanjut dari pihak Kanada, tentu saja kami tidak akan tinggal diam dan menerimanya begitu saja. Kami memiliki kebijakan perdagangan sendiri dan akan melanjutkannya dengan cara terbaik bagi AS,” ucap Greer.

Sementara itu, Penasihat Gedung Putih Peter Navarro memperkirakan Kanada tidak akan mendapatkan kembali tawaran kesepakatan yang sebelumnya sempat tersedia. Menurut dia, hasil perundingan berikutnya berpotensi lebih buruk bagi Ottawa.

“Hasil akhirnya tidak akan baik bagi Kanada, dan saya memperkirakan bahwa kesepakatan yang sempat didapat Kanada dan kemudian ditolak, tidak akan pernah didapat lagi,” ujar Navarro.

Kebuntuan negosiasi tersebut membuat hubungan dagang kedua negara menghadapi ketidakpastian baru, terutama menjelang pemberlakuan tarif otomotif pada awal 2027. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pelaku industri dan memperpanjang perselisihan perdagangan antara dua negara Amerika Utara tersebut. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com