Presiden China Xi Jinping meminta pemerintah daerah memperkuat evakuasi, pencarian korban, peringatan dini, dan pencegahan bencana susulan setelah banjir bandang serta longsor menerjang kawasan China-Nepal.
BEIJING – Pemerintah China diminta memperketat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana susulan setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah China dan Nepal di kawasan kaki Gunung Himalaya. Presiden China Xi Jinping meminta pemerintah daerah mengantisipasi skenario terburuk, memperkuat peringatan dini, serta memastikan proses evakuasi dan penyelamatan berjalan cepat.
Xi menyampaikan instruksi tersebut setelah bencana menerjang wilayah perbatasan China-Nepal pada Rabu (26/8). Ia meminta petugas memprioritaskan pencarian warga yang hilang, evakuasi masyarakat yang berada dalam bahaya, serta penanganan korban luka.
“[Saya] menyerukan upaya untuk mengevakuasi warga yang berisiko dan memberikan perawatan medis tepat waktu kepada yang terluka untuk meminimalkan korban jiwa,” demikian laporan kantor berita Xinhua, menurut pernyataan Xi.
Selain penyelamatan korban, Xi meminta pemerintah daerah dan departemen terkait memperkuat pemantauan serta sistem peringatan dini. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah munculnya bencana sekunder ketika operasi penanganan banjir masih berlangsung.
Xi juga mengingatkan bahwa China sedang memasuki periode kritis pengendalian banjir. Karena itu, pemerintah daerah diminta mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan kondisi ekstrem, termasuk banjir dan topan, serta segera mengidentifikasi berbagai potensi risiko.
Arahan serupa disampaikan Perdana Menteri (PM) China Li Qiang. Ia meminta jumlah warga yang hilang dan terdampak segera diverifikasi sekaligus mendorong pelaksanaan operasi penyelamatan dan bantuan secara menyeluruh.
Li juga meminta Kementerian Luar Negeri China memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan negara-negara terkait. Pertukaran informasi dan kerja sama lintas negara dinilai diperlukan untuk mendukung proses penyelamatan serta penyaluran bantuan.
Bencana banjir bandang dan longsor tersebut terjadi di kawasan kaki Gunung Himalaya pada Rabu (26/8). Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan air bah menerjang bangunan, rumah, jalan, dan sejumlah proyek pembangunan. Sejumlah rumah serta kendaraan juga dilaporkan terdampak longsor.
Di Nepal, Badan Bencana melaporkan 826 orang belum dapat dihubungi hingga Kamis (27/8), lebih dari 24 jam setelah bencana. Sebanyak 600 orang di antaranya merupakan turis asing, termasuk 177 warga India, 63 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 25 warga Kanada.
Sementara itu, pemerintah China melaporkan 558 orang masih hilang di wilayah Tibet. Dari jumlah tersebut, 260 orang merupakan warga asing. Jika angka dari kedua negara dijumlahkan, terdapat 1.384 orang yang dilaporkan hilang, meski belum dapat dipastikan apakah seluruh data tersebut merupakan korban yang berbeda atau terdapat penghitungan ganda.
Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana tersebut dilaporkan mencapai 165 orang. Di tengah proses pendataan yang masih berlangsung, pemerintah China menempatkan pencarian korban, evakuasi, peringatan dini, dan pencegahan bencana susulan sebagai prioritas penanganan, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (27/08/2026). []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan