Ilustrasi

14 Titik Panas Terdeteksi di Bulungan, Dishut Kaltara Turunkan Tim

Meski hanya mencatat sekitar 400,62 hektare indikasi karhutla hingga Juli 2026, Kaltara meningkatkan kesiapsiagaan setelah 14 titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Bulungan.

BULUNGAN – Sebanyak 14 titik panas atau hotspot terdeteksi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Sabtu (05/09/2026), mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara meningkatkan kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Temuan tersebut menjadi perhatian meski secara kumulatif Kaltara masih mencatat luas indikasi karhutla terendah di Pulau Kalimantan hingga Juli 2026, yakni 400,62 hektare.

Berdasarkan pemantauan satelit National Aeronautics and Space Administration (NASA)-National Oceanic and Atmospheric Administration 20 (NOAA-20) dan NASA-Suomi National Polar-orbiting Partnership (SNPP), seluruh titik panas tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang atau medium.

Tujuh titik terdeteksi di Desa Jelarai Selor, Kecamatan Tanjung Selor. Tiga titik lainnya berada di Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah.

Sementara empat titik panas di Kecamatan Tanjung Palas Timur tersebar di Desa Binai sebanyak dua titik serta masing-masing satu titik di Desa Sajau Hilir dan Desa Mangkupadi.

Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan Kaltara Nurlaila langsung menginstruksikan tim pengawas pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) melakukan pengecekan lapangan atau ground check guna memastikan kondisi pada lokasi yang terdeteksi tetap terkendali.

“Capaian ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi bersama. Tetapi kita tidak boleh lengah. Memasuki September, kesiapsiagaan personel patroli dan tim respons cepat terus ditingkatkan,” kata Nurlaila, sebagaimana diberitakan Diskominfo Kaltara, Sabtu, (05/09/2026).

Kewaspadaan tersebut diperkuat dengan tren kenaikan luas indikasi karhutla di Kaltara sepanjang Januari-Juli 2026. Luas kumulatif tercatat 41,61 hektare pada Januari, meningkat menjadi 66,59 hektare pada Februari dan 69,25 hektare pada Maret.

Luas indikasi kebakaran kemudian bertambah menjadi 124,17 hektare pada April, 196,59 hektare pada Mei, 315,12 hektare pada Juni, hingga mencapai 400,62 hektare pada Juli.

Meski menunjukkan peningkatan secara bertahap, data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) yang dihimpun Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara menunjukkan luas karhutla provinsi tersebut masih menjadi yang terendah di regional Kalimantan.

Kalimantan Barat tercatat memiliki luas indikasi karhutla terbesar, yakni 38.310,86 hektare, disusul Kalimantan Selatan 8.019,63 hektare, Kalimantan Tengah 7.634,46 hektare, dan Kalimantan Timur 2.715,76 hektare. Kaltara tercatat 400,62 hektare atau sekitar 0,70 persen dari total indikasi karhutla regional Kalimantan.

Secara nasional, luas indikasi kebakaran mencapai 202.004,32 hektare. Luas karhutla Kaltara setara sekitar 0,20 persen dari total tersebut.

Nurlaila menegaskan pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan petugas lapangan. Masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintahan desa dinilai memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran berkembang semakin luas.

“Karhutla bukan hanya tugas aparat. Ini tanggung jawab kita bersama untuk menjaga Kaltara tetap hijau, aman dan terhindar dari bencana asap,” tegasnya.

Dishut Kaltara terus memperkuat patroli pencegahan, pengawasan daerah rawan, pemantauan titik panas, dan sosialisasi kepada masyarakat. Temuan 14 hotspot di Bulungan menjadi alasan kewaspadaan tetap diperketat agar setiap indikasi kebakaran dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum berkembang menjadi karhutla berskala lebih luas. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com