MOSKOW — Di sebuah sudut tenda besar di Poklonnaya Gora, suasana hangat terasa menjelang waktu berbuka puasa. Seorang pendeta Ortodoks duduk berdampingan dengan seorang rabi Yahudi dan seorang imam. Mereka menikmati kurma dan teh sambil berbincang hangat menjelang waktu berbuka. Pemandangan ini menjadi pemandangan biasa di “Shater Ramadana” atau Tenda Ramadhan sebuah tradisi yang telah mengubah wajah diplomasi publik di Rusia.
Tenda Ramadhan yang digelar setiap tahun di kawasan Poklonnaya Gora, salah satu lokasi bersejarah di ibu kota Rusia, bukan sekadar acara berbuka puasa bersama. Kegiatan ini telah berkembang menjadi ruang dialog lintas iman yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, pejabat pemerintahan, diplomat asing, akademisi, hingga warga sipil dari beragam latar belakang.
Sejak pertama kali digelar pada pertengahan 2000-an, Tenda Ramadhan di Moskow secara konsisten menghadirkan forum kebersamaan yang mempertemukan perwakilan agama-agama resmi di Rusia. Setiap tahun, panitia secara khusus mengundang perwakilan semua agama resmi di Rusia: Kristen Ortodoks, Yahudi, Buddha, dan tentu saja Islam. Para tokoh agama ini duduk bersama dalam satu meja, berdialog, dan berbagi pengalaman tentang nilai-nilai kemanusiaan.
Kehadiran para pemuka agama dalam satu ruang yang sama mencerminkan komitmen terhadap dialog dan saling pengertian. Dalam suasana yang cair dan penuh penghormatan, diskusi mengenai makna puasa, nilai pengendalian diri, hingga pentingnya solidaritas sosial menjadi topik yang kerap diperbincangkan.
“Di sinilah kami belajar bahwa puasa tidak hanya milik Muslim. Kristen Ortodoks juga berpuasa, Yahudi juga berpuasa. Kami bertukar pengalaman dan menemukan banyak kesamaan,” ujar Pastor Aleksy, perwakilan Gereja Ortodoks Rusia yang hadir dalam acara tersebut.
Pernyataan tersebut menggambarkan semangat utama yang diusung dalam Tenda Ramadhan, yakni menemukan titik temu di tengah keberagaman. Puasa dipahami bukan semata ritual keagamaan, melainkan juga praktik spiritual yang mengajarkan empati, kesederhanaan, serta kepedulian terhadap sesama.
Tahun ini, tema dialog lintas agama mengusung pesan “Kebersamaan dalam Keberagaman”. Tema tersebut menegaskan pentingnya merawat harmoni sosial di tengah masyarakat Rusia yang multietnis dan multireligius. Acara ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, melainkan juga ruang diskusi substansial mengenai kontribusi agama dalam membangun perdamaian.
Dilansir dari situs resmi Dewan Spiritual Muslim Rusia dumrf.ru, selain para tokoh agama, hadir pula diplomat dari berbagai negara sahabat, termasuk Duta Besar negara-negara Islam seperti Iran, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Mereka duduk bersama dengan pejabat Pemerintah Moskow dan anggota parlemen Rusia dalam satu meja iftar.
Kehadiran para diplomat tersebut memperkuat dimensi diplomasi publik yang melekat pada Tenda Ramadhan. Melalui forum ini, Rusia menunjukkan wajah keberagamannya kepada komunitas internasional. Dialog yang terbangun tidak hanya mencakup isu keagamaan, tetapi juga kerja sama sosial, budaya, dan kemanusiaan.
“Tenda ini adalah simbol bahwa Rusia adalah rumah bagi semua agama. Kami tidak hanya toleran, kami saling menghormati dan bekerja sama untuk kebaikan bersama,” ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Rusia yang hadir, Selasa (24/03/2026).
Selain pejabat dan tokoh agama, para akademisi dan peneliti dari berbagai universitas di Moskow juga turut ambil bagian. Mereka mengadakan diskusi ringan tentang peran agama dalam membangun perdamaian dan harmoni sosial. Perspektif akademik ini melengkapi dialog spiritual yang telah berlangsung, sehingga diskusi tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga analitis.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menjadi ciri khas setiap pertemuan di Tenda Ramadhan. Makanan berbuka disajikan secara sederhana, namun kebersamaan yang tercipta menjadi nilai utama. Para tamu duduk tanpa sekat, berbincang dalam suasana santai, serta saling bertukar pandangan mengenai kehidupan beragama di Rusia.
Tidak hanya tokoh, masyarakat umum dari berbagai latar belakang agama juga bebas datang dan berbaur. Keterbukaan ini menjadikan Tenda Ramadhan sebagai ruang inklusif yang dapat diakses siapa saja yang ingin belajar dan memahami tradisi Islam secara langsung.
Seorang pengunjung beragama Buddha mengaku senang bisa merasakan atmosfer Ramadhan. “Saya belajar tentang Islam langsung dari sumbernya, dari orang-orang yang menjalankannya. Ini pengalaman yang membuka wawasan,” katanya.
Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa interaksi langsung mampu mengikis prasangka dan membangun pemahaman yang lebih mendalam. Dialog yang terjadi secara alami dalam suasana kebersamaan dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar wacana formal.
Diplomasi publik melalui Tenda Ramadhan ini menjadi bukti bahwa Islam di Rusia adalah bagian integral dari masyarakat yang pluralis. Keberadaan komunitas Muslim yang hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain memperlihatkan model koeksistensi yang terus dirawat melalui komunikasi dan kerja sama.
Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun kuat: di atas perbedaan agama, kita semua adalah manusia yang membutuhkan kasih sayang dan persaudaraan. Di tengah dinamika global yang kerap diwarnai ketegangan identitas, Tenda Ramadhan di Moskow menghadirkan narasi alternatif tentang dialog, penghormatan, dan persatuan. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan