MOSKOW – Rusia menegaskan komitmennya untuk mendorong penghentian konflik bersenjata di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran mendeklarasikan “perang skala penuh” terhadap Amerika Serikat dan Israel. Pemerintah Rusia menyatakan akan mengerahkan seluruh kapasitas diplomatik dan politiknya guna meredam eskalasi yang berpotensi memicu perang regional lebih luas.
Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Rusia untuk Iran, Alexander Maryasov, yang menegaskan bahwa Moskow memandang stabilitas kawasan sebagai prioritas utama dalam situasi yang semakin memanas. Menurutnya, Rusia terus berupaya memainkan peran aktif melalui jalur diplomasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis berkepanjangan.
Di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, Rusia diketahui tetap menjalin hubungan strategis dengan Iran. Namun demikian, Moskow menegaskan bahwa dukungan yang diberikan kepada Teheran bukan dimaksudkan untuk memperluas konflik militer, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan.
Maryasov menegaskan bahwa prioritas utama Rusia saat ini adalah menghentikan kekerasan dan mendorong terciptanya stabilitas regional. “Yang paling penting bagi Rusia saat ini adalah mendorong dihentikannya permusuhan bersenjata,” tegas Maryasov.
Ia juga menambahkan bahwa upaya meredakan konflik tidak hanya menjadi kepentingan Rusia, tetapi juga sejalan dengan kebutuhan Iran dan negara-negara lain di kawasan yang terdampak oleh meningkatnya tensi militer.
Maryasov menjelaskan bahwa posisi Rusia yang memiliki hubungan diplomatik dengan berbagai pihak dapat menjadi faktor penting dalam proses mediasi. Selain memiliki hubungan erat dengan Iran, Rusia juga tetap membuka jalur komunikasi dengan Israel serta sejumlah aktor internasional lainnya.
Melalui posisi tersebut, Moskow berupaya menempatkan diri sebagai pihak penyeimbang yang mampu mendorong dialog antara negara-negara yang terlibat konflik. Rusia menilai bahwa jalur diplomasi masih menjadi solusi paling realistis untuk menghindari meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Dalam laporan yang dimuat News.ru pada (02/03/2026) yang lalu, Maryasov juga mengisyaratkan kemungkinan Rusia mengambil peran mediator jika situasi terus memburuk. Ia menyebut bahwa pendekatan diplomatik yang intensif diperlukan untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang berpotensi menghancurkan stabilitas kawasan.
Situasi semakin memanas setelah Iran berjanji akan melakukan pembalasan atas tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Ancaman balasan tersebut memicu kekhawatiran internasional terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas, terutama jika melibatkan kekuatan militer besar di kawasan.
Dalam konteks ini, Rusia dipandang memiliki posisi strategis untuk menekan terjadinya konfrontasi terbuka. Moskow diharapkan dapat memanfaatkan pengaruhnya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai forum internasional guna mendorong gencatan senjata.
Selain itu, Rusia juga diyakini dapat memainkan peran penting dalam meyakinkan Iran bahwa kepentingan strategisnya tetap dapat diamankan melalui jalur diplomasi tanpa harus membawa kawasan Timur Tengah ke dalam konflik berskala besar yang berpotensi menghancurkan stabilitas global. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan