Ketegangan Iran dan AS–Israel Picu Krisis Kemanusiaan

NEW YORK – Ketegangan konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus memunculkan dampak kemanusiaan yang serius. Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa ribuan warga sipil menjadi korban sejak pecahnya perang pada akhir Februari lalu.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, menyampaikan bahwa berdasarkan data sementara yang dihimpun pemerintah Iran, sedikitnya 1.332 warga sipil dilaporkan meninggal dunia, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi selama konflik berlangsung.

Pernyataan tersebut disampaikan Iravani kepada wartawan di markas besar PBB di New York pada Jumat (06/03/2026). Ia menilai serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel banyak mengenai fasilitas yang seharusnya tidak menjadi sasaran militer.

Menurut Iravani, Iran menegaskan bahwa operasi militer yang mereka lakukan hanya diarahkan pada target militer. Ia membantah tudingan bahwa negaranya menyerang fasilitas sipil maupun wilayah non-militer di negara tetangga.

Ia menjelaskan bahwa beberapa insiden yang menyebabkan kerusakan pada fasilitas sipil kemungkinan terjadi akibat sistem pertahanan udara yang beroperasi di wilayah konflik.

“Evaluasi awal kami menunjukkan bahwa sebagian insiden mungkin dipicu oleh intersepsi atau gangguan dari sistem pertahanan Amerika Serikat, yang berpotensi membuat rudal menyimpang dari target militer yang dimaksud,” ujar Iravani.

Dalam kesempatan yang sama, Iravani juga menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyampaikan keinginannya untuk memiliki pengaruh dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Menurut Iravani, sikap tersebut tidak dapat diterima karena bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara sebagaimana diatur dalam Piagam PBB. Ia menegaskan bahwa proses politik di Iran merupakan urusan internal yang tidak boleh diintervensi oleh negara lain.

Ia menekankan bahwa mekanisme pemilihan pemimpin tertinggi Iran sepenuhnya diatur dalam konstitusi negara tersebut dan hanya ditentukan oleh rakyat Iran.

Di tengah memanasnya konflik, muncul pula dugaan bahwa serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran yang menewaskan ratusan anak kemungkinan berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat. Informasi ini diungkap oleh dua pejabat AS kepada kantor berita Reuters. Meski demikian, penyelidikan resmi terkait insiden tersebut masih berlangsung dan belum menghasilkan kesimpulan final.

Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan sejumlah negara mulai melakukan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan. Langkah mediasi ini disebut menjadi salah satu peluang awal bagi terciptanya jalur dialog guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak 28 Februari.

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sendiri dipicu oleh meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran. Serangan militer yang terjadi di tengah proses negosiasi tersebut memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap eskalasi konflik yang lebih luas. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com