KUTAI KARTANEGARA — Momen peringatan Peristiwa Merah Putih Sanga-Sanga yang biasanya menjadi berkah bagi pelaku usaha kuliner tradisional, tahun ini justru berbalik nestapa bagi Paini, pemilik gula gait merek “Lek Nie”. Omzetnya anjlok drastis dari Rp15-17 juta pada peringatan 2025 menjadi hanya Rp2,5 juta di tahun 2026.
Paini mengaitkan penurunan signifikan ini dengan kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada tidak adanya penyediaan stan bagi pelaku usaha kecil oleh dinas terkait selama gelaran acara.
“Tahun 2025 itu ramai sekali, seminggu bisa sampai Rp15-17 juta. Tapi tahun 2026 turun drastis, hanya sekitar Rp2,5 juta. Karena tahun ini tidak ada stan yang disediakan dinas,” ungkapnya, Jumat (06/03/2026).

Padahal, di luar momen khusus tersebut, usaha yang dirintis sejak 2014 dengan modal Rp1 juta ini sebenarnya telah membuktikan daya tahan kuliner tradisional di pasar modern. Dengan produksi rumahan sekitar 80 bungkus per hari (berat 60-70 gram, harga Rp10.000 dari produsen), gula gait “Lek Nie” mampu menembus pasar hingga Jawa, Sumatera, bahkan pernah dikirim ke luar negeri.
Dalam sebulan, Paini memasok 200-300 bungkus ke toko oleh-oleh di Samarinda dan Kutai Kartanegara, plus 400-500 bungkus pesanan luar daerah. Keuntungan yang diraup mencapai 40-50 persen.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara, Santi Effendi, mengakui bahwa kebijakan efisiensi anggaran memang berdampak pada sejumlah program pendukung UMKM, termasuk penyediaan stan di event-event tertentu.
“Kami memahami keluhan pelaku usaha seperti Ibu Paini. Namun, kami terus berupaya memberikan alternatif bantuan, seperti pelatihan pemasaran digital, fasilitasi perizinan, dan pendampingan pengemasan produk. Ke depan, kami akan mendorong UMKM untuk lebih mandiri memanfaatkan platform online agar tidak terlalu bergantung pada momen seremonial,” ujarnya saat dihubungi terpisah, Sabtu (7/3/ 2026).
Santi menambahkan, pihaknya saat ini tengah memetakan potensi kuliner tradisional di setiap kecamatan, termasuk gula gait khas Sanga-Sanga, untuk dimasukkan dalam program binaan berkelanjutan. “Kami juga membuka akses permodalan melalui koperasi atau lembaga keuangan mitra pemerintah,” imbuhnya.
Paini sendiri tetap bertahan dengan filosofi sederhana: ketelatenan. Ia menegaskan bahwa meski bahan baku hanya gula aren dan gula putih, proses pembuatan gula gait butuh teknik khusus yang ia wariskan pada keluarga.
“Kalau salah sedikit bisa gagal. Saya ingin anak saya nanti tetap bisa bikin ini. Tapi biar orang tahu, kami perlu bantuan promosi yang lebih luas,” pungkasnya.
Dengan persaingan camilan modern yang kian deras, nasib gula gait “Lek Nie” menjadi potret nyata bagaimana kuliner jadul membutuhkan panggung yang tidak hanya sesaat, tetapi berkelanjutan.[]
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan