Lawan Budaya Serba Instan, NCC Paser Bangun Generasi Melek Literasi

Komunitas Literasi NCC Paser mengembangkan metode pembelajaran berbasis praktik untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan menulis masyarakat.

PASER – Komunitas Literasi Nusantara Course Center (NCC) Paser hadir sebagai ruang pengembangan literasi berbasis praktik di Kabupaten Paser, dengan pendekatan pembelajaran yang mendorong kemampuan menulis, membaca, serta kepekaan terhadap fenomena sosial dan lingkungan sekitar.

Komunitas ini didirikan sebagai respons terhadap derasnya arus informasi di ruang digital yang menuntut masyarakat untuk berpikir kritis, cerdas, dan adaptif terhadap berbagai isu. NCC Paser tidak hanya menekankan aspek tata bahasa, tetapi juga praktik langsung dalam mengolah ide, pengamatan, hingga perasaan menjadi tulisan yang baik dan benar.

Pegiat literasi NCC Paser, Sastro Wanto, menjelaskan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan berbeda dengan sistem konvensional. Peserta tidak langsung diberikan buku untuk dibaca, melainkan dibangun terlebih dahulu minat dan kebiasaan membaca.

“Di NCC Paser tidak tiba-tiba disuguhkan buku untuk dibaca. Disini kita tekankan agar anak gemar dulu membaca. Kita berikan teknik agar anak ketagihan membaca. Tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca gejala sosial, sehingga melatih kepekaan kita terhadap peristiwa yang ada”, ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (27/03/2026).

Dalam proses pembelajaran, fasilitator berperan sebagai pendamping yang memberikan studi kasus dan mendorong diskusi, bukan sebagai penceramah. Peserta didorong aktif bertanya dan mengemukakan pendapat, termasuk ketika terjadi perbedaan pandangan.

“Disini kami memancing peserta agar semangat untuk bertanya dan berpendapat. Walaupun ada perbedaan pendapat kita fasilitasi pendapat tersebut, tanpa melemahkan sikap kritis mereka”, jelasnya.

Selain itu, NCC Paser juga mengedepankan pendekatan praktis melalui kegiatan lapangan atau anjang sana. Peserta diajak mengamati langsung kondisi lingkungan, seperti kunjungan ke hutan bakau, kemudian menuangkan hasil pengamatan dalam bentuk tulisan menggunakan perangkat digital.

“Jadi tidak terkungkung di ruangan. Seperti misalnya beberapa waktu lalu kita berkunjung ke hutan bakau. Disana kita ajak peserta untuk mengamati, lalu menuangkan pengamatan mereka dalam bentuk tulisan. Jadi kita praktikan langsung”, imbuhnya.

Salah satu tujuan utama komunitas ini adalah menghasilkan produk literasi berupa buku yang berasal dari karya para anggota, mulai dari puisi, cerpen, naskah drama dan film, hingga tulisan berbasis penelitian.

“Seperti misalnya ada pohon endemik yang belum tercatat secara khusus oleh warga lokal maupun pelaku akademis. Itu bisa kita amati dan teliti, mulai dari manfaat hingga negatifnya misalnya, juga akan menjadi produk akademik yang layak untuk diterbitkan”, sambungnya.

Keanggotaan NCC Paser terbuka bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga guru dan pemerhati literasi. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya minat baca di kalangan generasi muda yang cenderung menyukai konten singkat.

“tidak bisa di pungkiri memang generasi saat ini memang ogah membaca. Bahkan sekarang nggk kuat untuk menonton film yang panjang, maunya video pendek. Memang itu tantangannya. Jadi di NCC ini, kami berupaya mengubah paradigma tersebut, dengan teknik-teknik yang terbukti efektif menarik minat peserta”, pungkasnya.

Meski baru berjalan beberapa bulan, NCC Paser telah menunjukkan hasil awal melalui karya puisi yang ditampilkan pada peresmian komunitas tersebut. Ke depan, komunitas ini diharapkan mampu berkontribusi dalam membenahi sistem pendidikan, tidak hanya mencetak penulis, tetapi juga membangun kepekaan sosial di tengah masyarakat. []

Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com