Rusia dan Ukraina masih saling menuding melanggar gencatan senjata, namun jumlah serangan dilaporkan menurun dan belum ada eskalasi besar di medan perang.
KYIV – Intensitas serangan antara Rusia dan Ukraina dilaporkan menurun selama masa gencatan senjata tiga hari yang dimediasi Amerika Serikat (AS), meski kedua negara masih saling menuduh melakukan pelanggaran di medan perang.
Situasi tersebut terjadi bertepatan dengan peringatan kemenangan Rusia dalam Perang Dunia II serta rencana pertukaran masing-masing 1.000 tahanan dari kedua pihak dalam beberapa hari mendatang. Gencatan senjata sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump sebagai upaya meredakan konflik yang telah berlangsung panjang.
Pemerintah Ukraina menyebut serangan dari pihak Rusia masih terjadi selama masa penghentian sementara pertempuran. “Sejak awal hari, jumlah serangan oleh agresor telah mencapai 51,” kata Staf Umum Ukraina.
Meski demikian, Angkatan Udara Ukraina melaporkan jumlah serangan pesawat nirawak atau drone Rusia mengalami penurunan signifikan. Rusia disebut hanya meluncurkan 44 drone sejak Jumat (09/05/2026) pukul 18.00 waktu setempat, yang menjadi salah satu angka terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, Rusia juga menuding Ukraina melanggar kesepakatan gencatan senjata. Namun hingga kini belum ada laporan mengenai serangan besar maupun eskalasi militer berskala luas dari kedua negara.
Perkembangan situasi tersebut sebagaimana dilansir AFP, Minggu (10/05/2026), dan diberitakan Detikcom. Pengamatan internasional kini tertuju pada efektivitas gencatan senjata dan peluang pertukaran tahanan sebagai langkah awal meredakan konflik berkepanjangan antara kedua negara.
Penurunan jumlah serangan selama periode gencatan senjata dinilai memberi harapan bagi upaya diplomasi, meski ketegangan di lapangan masih terus berlangsung. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan