Infus Berujung Luka, TRC PPA Desak RSUD AWS Bertanggung Jawab

TRC PPA Kaltim mendesak penanganan medis cepat dan evaluasi tenaga kesehatan setelah bayi mengalami luka serius diduga akibat kesalahan pemasangan infus.

SAMARINDA – Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, Selasa (31/03/2026), untuk berkoordinasi terkait penanganan medis seorang bayi yang mengalami luka serius diduga akibat kesalahan pemasangan infus.

Kedatangan TRC PPA Kaltim tersebut bertujuan memastikan korban segera mendapatkan penanganan medis optimal sekaligus mendorong evaluasi terhadap tindakan tenaga medis yang terlibat.

Biro Hukum TRC PPA Kaltim, Sudirman, mengatakan pihak manajemen RSUD AWS merespons cepat dengan berkomitmen menjemput bayi tersebut agar segera mendapatkan penanganan lanjutan.

“Beliau langsung mengambil sebuah langkah bahwasannya akan dijemput sesegera mungkin anaknya atau bayinya dijemput untuk dibawa ke AWS untuk dilakukan tindakan terkait dengan apa yang sudah terjadi sama itu anak,” ujarnya saat ditemui usai pertemuan dengan Pelaksana Tugas Direktur Utama (Plt Dirut) RSUD AWS.

Ia menambahkan, selain penanganan korban, pihak rumah sakit juga akan melakukan evaluasi terhadap tenaga medis yang sebelumnya menangani bayi tersebut.

“Pihak manajemen juga akan melakukan langkah di mana melakukan evaluasi terhadap kinerja dari pasien, para tim-tim yang saat itu bersinggungan langsung dengan si bayi, jadi itu yang paling penting,” ucapnya.

Menurut Sudirman, penjemputan bayi direncanakan dilakukan dalam waktu dekat setelah koordinasi dengan pihak rumah sakit diselesaikan.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mencari solusi terbaik demi keselamatan dan pemulihan kondisi bayi. TRC PPA Kaltim menegaskan fokus utama seluruh pihak saat ini adalah memastikan korban mendapatkan penanganan medis terbaik.

Sementara itu, Biro Hukum TRC PPA Kaltim lainnya, Suryo Hilal, menekankan pentingnya penanganan cepat dan tepat guna mencegah dampak yang lebih serius pada kondisi bayi. “Fokus kita saat ini adalah bagaimana bisa mengambil langkah yang cepat dan efisien agar tangan si bayi ini bisa dapat ditindaklanjuti secara medis,” tegasnya.

Ia mengungkapkan kekhawatiran kondisi luka dapat memburuk apabila tidak segera ditangani secara optimal. “Yang kita khawatirkan adalah luka tersebut semakin parah sehingga nanti menimbulkan cacat,” katanya.

Suryo juga mendorong RSUD AWS untuk segera melakukan observasi menyeluruh terhadap kondisi bayi serta melakukan evaluasi internal secara transparan terhadap tindakan medis yang telah dilakukan. “Tidak boleh karena tindakan medis ini karena mengecil lah uratnya atau apalah seperti yang disampaikan tadi, kami meminta pertanggungjawaban,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya pertanggungjawaban apabila ditemukan adanya kesalahan dalam tindakan medis, sekaligus meminta rumah sakit mencegah kejadian serupa terulang. “Rumah sakit harus melakukan evaluasi, jangan sampai ada lagi korban-korban bayi yang nantinya cacat gara-gara tindakan-tindakan oleh oknum-oknum yang tidak profesional,” terangnya.

Sudirman kembali menegaskan bahwa langkah utama saat ini adalah percepatan penanganan terhadap korban. “Yang paling penting adalah pihak rumah sakit akan sesegera mungkin melakukan tindakan penanganan terhadap si bayi, itu yang paling garis besar yang bisa kami sampaikan,” tutupnya.

Sementara itu, Plt Dirut RSUD AWS belum memberikan keterangan resmi saat dimintai tanggapan terkait kasus tersebut.[]

Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com