Lonjakan nilai kartu Pokémon memicu tren pencurian global yang menyasar toko dan kolektor karena tingginya nilai dan likuiditas.
WASHINGTON – Lonjakan nilai ekonomi kartu koleksi Pokémon memicu tren kejahatan baru secara global, dengan toko dan kolektor menjadi target utama pencurian karena tingginya harga dan kemudahan penjualan ulang barang tersebut.
Fenomena ini tercermin dari kasus terbaru di Graham, Washington, Amerika Serikat (AS), ketika dua pelaku berhasil membobol toko Next Level the Gamers Den dan menggondol barang senilai hampir US$10 ribu atau sekitar Rp169 juta hanya dalam waktu kurang dari dua menit.
Pemilik toko, Andrew Engelbeck, mengungkapkan bahwa aksi pencurian bukan pertama kali terjadi di tokonya sejak beroperasi pada 2018. Ia menilai perubahan situasi mulai terasa seiring meningkatnya nilai pasar barang koleksi.
“Kami menjalani tiga tahun yang baik setelah pertama kali buka tanpa masalah,” kata Engelbeck.
“Tetapi kemudian, seiring dengan melonjaknya pasar barang koleksi, situasinya jelas memburuk,” ucapnya kemudian mengutip CNN, Minggu, (05/04/2026), sebagaimana dilansir CNN Indonesia.
Lonjakan permintaan kartu Pokémon sejak pandemi turut berbanding lurus dengan meningkatnya aksi kriminal di berbagai negara. Sepanjang tahun ini, toko koleksi di Las Vegas, New York, Vancouver di Kanada, hingga Nottingham di Inggris dilaporkan menjadi sasaran perampokan, dengan total kerugian mencapai lebih dari US$500 ribu.
Sersan polisi di Abbotsford, British Columbia, Paul Walker, menilai fenomena ini sebagai tren baru yang mengkhawatirkan.
“Menargetkan toko kartu untuk kartu (Pokémon) ini mulai muncul. Ini menjadi kekhawatiran ketika kita mulai melihat tren seperti ini,” ujarnya.
Nilai kartu Pokémon yang meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir membuat komoditas ini menjadi target empuk pelaku kejahatan. Selain bernilai tinggi, kartu tersebut juga memiliki tingkat likuiditas yang tinggi di pasar sekunder.
Chief Executive Officer (CEO) Certified Trading Card Association, Nick Jarman, menjelaskan bahwa karakteristik tersebut mempermudah pelaku untuk menjual kembali barang hasil curian.
“Para perampok dapat mengambil segenggam kartu, yang nilainya bisa mencapai ribuan atau puluhan ribu dolar, dan benar-benar memasukkannya ke dalam saku mereka,” kata Jarman.
“Penjualan kembali sangat cepat. Likuiditasnya tinggi,” tutur Jarman menambahkan.
Kasus serupa juga menimpa kolektor individu. Pada Februari, seorang kreator konten Pokémon bernama PokeDean melaporkan rumahnya dibobol saat ditinggal beberapa hari. Ia menemukan rumah dalam kondisi berantakan, namun pelaku hanya mengambil kartu Pokémon bernilai tinggi, sementara barang lain seperti laptop dan konsol gim tidak disentuh.
“Lakukan yang terbaik untuk menjaga (kartu Pokemon Anda) tetap terlindungi dan aman, karena Pokemon sangat populer saat ini,” katanya.
“Ada orang jahat di luar sana yang ingin melakukan hal semacam ini.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai suatu komoditas hobi dapat memicu risiko kriminalitas baru, sehingga pelaku usaha dan kolektor dituntut meningkatkan sistem keamanan guna meminimalkan potensi kerugian di tengah tren global tersebut. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan