Iran menolak gencatan senjata sementara dari AS dan mengajukan proposal damai permanen di tengah ancaman militer dan tekanan geopolitik.
TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru setelah Iran menolak usulan gencatan senjata sementara dari Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump, dan justru mengajukan proposal tandingan yang menuntut penghentian perang secara permanen.
Pemerintah Iran melalui kantor berita resminya, Islamic Republic News Agency (IRNA), menyampaikan proposal tersebut kepada Pakistan untuk diteruskan kepada AS sebagai mediator. Langkah ini menegaskan bahwa Iran tidak bersedia menerima solusi jangka pendek di tengah konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (07/04/2026), proposal Iran terdiri dari 10 poin utama. Salah satu poin krusial adalah penolakan terhadap gencatan senjata sementara serta penegasan bahwa penghentian konflik harus bersifat permanen dengan syarat-syarat yang diajukan Teheran.
Selain itu, Iran juga menuntut penghentian seluruh permusuhan di kawasan, jaminan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat serangan AS-Israel, serta pencabutan sanksi yang selama ini membebani negara tersebut.
Proposal ini muncul di tengah upaya negosiasi yang sebelumnya sempat mengarah pada opsi gencatan senjata sementara selama 45 hari, sebagaimana diungkapkan salah satu pejabat AS. Namun, perbedaan kepentingan kedua negara membuat kesepakatan tersebut belum tercapai.
Di sisi lain, AS juga mengajukan tuntutan baru yang cukup berat, yakni penghentian program nuklir dan rudal balistik Iran, serta penyerahan seluruh uranium yang telah diperkaya. Tuntutan ini menjadi salah satu titik krusial yang memperlebar jurang negosiasi.
Situasi semakin memanas setelah Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran, khususnya terkait akses jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz. Ia bahkan memberikan ultimatum agar Iran segera membuka jalur tersebut.
“Buka Selat sialan itu, brengsek atau Anda akan hidup di neraka. LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah [Praise to be Allah/Alhamdulillah],” tulis Trump melalui media sosialnya, sebagaimana diwartakan Cnn Indonesia, Selasa (07/04/2026).
Ultimatum tersebut disertai batas waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu Iran. Jika tidak dipenuhi, AS mengancam akan melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran.
Langkah Iran mengajukan proposal tandingan ini menunjukkan strategi diplomasi yang lebih tegas di tengah tekanan militer dan politik. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah kedua pihak akan mencapai titik temu atau justru memperuncing konflik yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas global, khususnya sektor energi.[]
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan