gambar ilustrasi

Kemenangan Balen Shah Guncang Pengaruh China di Nepal

Kemenangan RSP dalam pemilu Nepal 2026 menandai perubahan politik domestik sekaligus berpotensi menggeser pengaruh China di kawasan Asia Selatan.

KATHMANDU – Kemenangan Partai Rastriya Swatantra Party (RSP) dalam pemilu parlemen Nepal 2026 tidak hanya mencerminkan perubahan politik domestik, tetapi juga membuka peluang pergeseran arah kebijakan luar negeri Nepal, terutama terhadap China yang selama ini memiliki pengaruh kuat di negara tersebut.

Pemilu ini menjadi momentum penting karena berlangsung pasca gelombang aksi protes generasi muda atau Gen Z pada September 2025 yang menggulingkan pemerintahan sebelumnya, sekaligus menandai munculnya kekuatan politik baru di Nepal.

Asisten Profesor Ilmu Politik dari University of Delhi, Sumit Kumar, menilai kemenangan RSP yang dipimpin Balen Shah menunjukkan penolakan publik terhadap dominasi partai-partai tradisional di Nepal.

“Perubahan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan geopolitik di kawasan, khususnya terkait posisi China di Asia Selatan,” ujar Kumar, sebagaimana dilansir Cnn Indonesia, Senin (06/04/2026).

RSP berhasil meraih mayoritas kursi di parlemen Nepal yang berjumlah 275 kursi, menggeser dominasi kekuatan politik lama yang selama ini memiliki kedekatan dengan Beijing.

Menurut Kumar, kekalahan partai-partai komunis di Nepal tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap kondisi domestik, tetapi juga menunjukkan meningkatnya ketidaknyamanan terhadap pengaruh China di negara tersebut.

“Kekalahan para pemimpin komunis tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan publik, tetapi juga menunjukkan ketidaknyamanan terhadap meningkatnya pengaruh China di Nepal,” tulis Kumar.

Selama bertahun-tahun, China diketahui aktif memperluas pengaruhnya di Nepal, termasuk melalui kerja sama ekonomi, politik, dan infrastruktur. Salah satu tonggak penting terjadi pada 2017 saat Nepal bergabung dalam proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang membuka jalan bagi keterlibatan luas perusahaan-perusahaan China di sektor strategis.

Namun, dengan munculnya kepemimpinan baru, arah kebijakan tersebut berpotensi berubah. Kumar menilai pemerintahan Balen Shah kemungkinan akan meninjau ulang proyek-proyek kerja sama dengan China, terutama dari sisi kelayakan ekonomi dan dampak strategisnya.

Selain itu, hubungan militer antara Nepal dan China juga diperkirakan akan menghadapi tantangan, seiring meningkatnya peran negara lain seperti Amerika Serikat dalam kerja sama pembangunan dan bantuan di Nepal.

Kumar juga menyoroti bahwa kebijakan terhadap pengungsi Tibet dapat ikut berubah. Tanpa pemerintahan yang dekat dengan Beijing, tekanan terhadap komunitas tersebut berpotensi berkurang.

Di sisi lain, hubungan Nepal dengan India diprediksi menguat di bawah kepemimpinan baru, mengingat latar belakang politik Balen Shah yang memiliki keterkaitan dengan wilayah Madhesi serta pengalaman tinggal di India.

Perubahan politik ini, menurut Kumar, menjadi sinyal munculnya generasi baru dalam kepemimpinan Nepal yang diharapkan mampu memperkuat institusi demokrasi sekaligus menata ulang posisi negara tersebut dalam dinamika geopolitik kawasan.

“Dengan munculnya generasi politik baru di Kathmandu, terdapat harapan bahwa penguatan institusi demokrasi akan membantu masyarakat Nepal memahami dinamika geopolitik yang berkembang,” ungkap Kumar.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa dinamika politik domestik Nepal kini tidak hanya berdampak internal, tetapi juga berpotensi mengubah peta kekuatan dan kepentingan di kawasan Asia Selatan dalam jangka panjang. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com