100 Titik Diserang dalam 10 Menit, Lebanon Dilanda Tragedi Besar

Serangan Israel di Lebanon tetap berlangsung meski gencatan senjata AS-Iran diumumkan, memicu korban massal dan polemik global.

BEIRUT– Ketidakjelasan cakupan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu eskalasi konflik di Lebanon setelah Israel tetap melancarkan serangan besar-besaran pada Rabu (08/04/2026), yang menewaskan 182 orang dan melukai 890 lainnya dalam hitungan menit.

Serangan tersebut menjadi sorotan internasional karena terjadi di tengah klaim gencatan senjata regional. Iran menyatakan Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara Israel secara tegas menolak anggapan tersebut dan tetap melanjutkan operasi militernya.

Dalam waktu sekitar 10 menit, Israel mengklaim telah menghantam sekitar 100 titik sasaran di berbagai wilayah Lebanon, termasuk pusat Kota Beirut. Serangan berlangsung tanpa peringatan evakuasi, menyebabkan kepanikan massal dan banyak korban terjebak di reruntuhan bangunan.

“Saya melihat ledakan itu, sangat kuat, dan ada anak-anak yang tewas, beberapa di antaranya kehilangan kedua tangannya,” kata Yasser Abdallah, pekerja toko peralatan rumah tangga di pusat kota Beirut, sebagaimana diwartakan Kompas, Kamis, (09/04/2026).

Ledakan hebat terjadi di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Tallet El-Khayat dan Corniche al-Mazraa. Bangunan runtuh seketika, sementara asap hitam pekat membumbung tinggi di langit Beirut. Tim penyelamat dilaporkan kesulitan menjangkau korban yang terjebak di lantai atas bangunan yang retak.

Pemerintah Israel melalui Menteri Pertahanan menyatakan serangan tersebut ditujukan untuk menargetkan kelompok Hizbullah yang tersebar di berbagai wilayah Lebanon, termasuk pinggiran selatan Beirut, wilayah selatan, timur, hingga pegunungan Aley.

Di sisi lain, Hizbullah menyatakan mereka belum melakukan serangan balasan sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan, meskipun sebelumnya sempat meluncurkan roket pada 2 Maret sebagai respons atas pembunuhan pemimpin Iran. Pernyataan ini memperkuat ketegangan di tengah perbedaan interpretasi atas kesepakatan yang dimediasi AS.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang berperan sebagai mediator menyebut gencatan senjata berlaku di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa wilayah tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras serangan tersebut. “Penembakan brutal Israel yang terus berlanjut terhadap Beirut, pegunungan, Beqaa, dan wilayah selatan, menegaskan bahwa Israel terus melanjutkan agresinya dan eskalasi berbahaya meskipun ada upaya internasional untuk meredam ketegangan di kawasan tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekan posisi AS dalam konflik ini. “AS tidak bisa mendapatkan keduanya. Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola sekarang berada di tangan AS dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” ujarnya.

Serangan juga menyasar infrastruktur vital, termasuk jembatan pesisir terakhir yang menghubungkan Kota Tyre dengan Beirut. Jembatan tersebut menjadi salah satu dari tujuh jembatan di atas Sungai Litani yang telah dihancurkan sejak konflik berlangsung.

Menurut otoritas Lebanon, sejak awal perang, lebih dari 1.500 orang telah tewas dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi. Situasi ini memperparah krisis kemanusiaan dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com