Perbedaan klaim antara Iran dan negara Barat terkait kondisi Mojtaba Khamenei memicu spekulasi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
TEHERAN – Ketidakpastian kondisi kesehatan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memicu spekulasi global setelah laporan berbeda dari berbagai pihak terkait cedera yang dialaminya pasca serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Informasi yang beredar menyebutkan Mojtaba mengalami luka serius sejak hari pertama serangan pada 28 Februari 2026. Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa ia mengalami patah kaki, memar di mata kiri, serta luka robek di wajah, sebagaimana diwartakan CNN Indonesia, Kamis (09/04/2026).
Laporan lanjutan dari media Barat, termasuk The Time, menyebutkan kondisi Mojtaba sempat kritis dan menjalani perawatan intensif di Kota Qom. Informasi tersebut disebut berasal dari memo diplomatik yang dikaitkan dengan intelijen Amerika Serikat.
Di sisi lain, pernyataan resmi dari sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel menguatkan dugaan adanya cedera. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan, “Ada kemungkinan yang disebut pemimpin tertinggi baru itu sudah terluka,” dalam konferensi pers. Pernyataan senada juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 26 Maret, “Saya rasa dia terluka, tapi masih hidup dalam kondisi tertentu.”
Namun demikian, pemerintah Iran memberikan klarifikasi berbeda. Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa kondisi Mojtaba tidak seperti yang diberitakan sejumlah media Barat. “Tidak ada masalah dengan pemimpin tertinggi yang baru. Dia mengeluarkan pernyataan kemarin dan menjalankan tugasnya sesuai dengan konstitusi,” ujarnya pada akhir Maret.
Bantahan juga disampaikan Kedutaan Besar Iran di Rusia terkait isu pemindahan Mojtaba ke negara tersebut untuk menjalani operasi secara diam-diam. Pihak Iran menegaskan informasi tersebut tidak benar.
Mojtaba sendiri diketahui terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel. Ia ditetapkan melalui pemungutan suara oleh Majelis Ahli pada awal Maret 2026.
Sejak penetapannya, Mojtaba belum pernah tampil langsung di hadapan publik. Pernyataan resminya hanya disampaikan melalui media televisi pemerintah dan kanal media sosial. Dalam salah satu pernyataan tersebut, ia menegaskan sikap Iran terhadap konflik yang terjadi.
“Kami akan membalas darah para martir kami,” kata Mojtaba.
Ia juga memperingatkan potensi eskalasi lebih lanjut dengan menargetkan kepentingan Amerika Serikat di kawasan. “Seluruh pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup, jika tidak pangkalan-pangkalan itu akan diserang,” imbuhnya.
Situasi ini menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah upaya menjaga stabilitas pasca konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketidakjelasan kondisi Mojtaba turut memunculkan pertanyaan mengenai kesinambungan kepemimpinan dan arah kebijakan Iran ke depan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan