Panen padi gogo di Muara Jawa menjadi momentum petani menyuarakan kebutuhan alsintan, pupuk, dan dukungan pengelolaan lahan di kawasan penyangga IKN.
KUTAI KARTANEGARA – Kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pupuk menjadi sorotan utama petani dalam kegiatan panen bersama padi gogo di Kecamatan Muara Jawa, Kamis (09/04/2026), di tengah upaya pengembangan pertanian berkelanjutan di kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).
Aspirasi tersebut mencuat dalam dialog terbuka antara petani, pemerintah, dan pihak perusahaan yang berlangsung di sela kegiatan panen. Para petani menyampaikan langsung berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari keterbatasan sarana produksi hingga akses infrastruktur menuju lahan pertanian.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju Sejahtera, Sarnu, menegaskan kebutuhan mendesak kelompok tani terhadap dukungan pemerintah dan pihak terkait.
“Gapoktan kami di Muara Jawa ada 19 kelompok tani dan 2 KWT, dengan jumlah anggota yaitu 400 orang lebih. Luasan lahan kami baik lahan basah maupun lahan kering itu sekitar 400 hektar. Kami selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya. Keluhan kami, Pak, sebagai kelompok tani, sebagaimana yang disampaikan Bapak Wakil Bupati tadi, yaitu alsintan (alat dan mesin pertanian) dan pupuk. Itu yang utama,” ujarnya.
Selain itu, perwakilan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nauli, Diana, juga menyoroti perlunya pendampingan dalam pengelolaan lahan pekarangan serta fasilitas pengolahan hasil pertanian.
“Terima kasih Bapak, saya mewakili dari KWT menyampaikan. Di Muara Jawa ini ada 13 kelompok KWT dan kami memohon bimbingan dari Bapak Bupati, juga Bapak Kepala Otorita IKN. Mungkin kalau kami, Ibu-ibu itu intern-nya KWT, karena lahan itu yang ada di lingkungan rumah, berbeda halnya dengan petani. Tetapi kadang terkendala di tempat pengolahan dan perlu bimbingan bagaimana cara mengelola lahan pekarangan yang ada agar KWT kami di Muara Jawa dapat lebih maju dan baik lagi,” ulasnya.
Di sisi lain, perwakilan PT Pupuk Kalimantan Timur, Joko, menyampaikan bahwa konsep pertanian di wilayah IKN akan mengedepankan pendekatan regeneratif dengan meminimalkan penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pupuk organik.
“Untuk wilayah IKN ini, kami akan menyesuaikan konsep di IKN sendiri, karena ini kan regeneratif ya pertaniannya. Jadi, walaupun kami punya pupuk kimia, tetapi kami akan sangat meminimalkan itu. Ini yang menarik, jadi nanti syukur-syukur kita belajar bagaimana sih membuat sebuah pupuk, tapi ini bukan pupuk kimia, apalagi pupuk subsidi. Ini adalah pupuk organik dan pupuk kompos. Pada intinya kami siap, untuk pergerakan maju dan pengembangannya kami akan selalu berkolaborasi dengan Otorita IKN beserta berbagai pihak lainnya,” ujarnya, sebagaimana dilansir Kompas, Kamis, (10/04/2026).
Kegiatan panen bersama ini tidak hanya menjadi simbol keberhasilan budidaya padi gogo hasil kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), tetapi juga menjadi forum strategis untuk menyerap aspirasi petani secara langsung.
Dengan berbagai tantangan yang disampaikan, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian di kawasan penyangga IKN, sehingga tetap produktif dan berkelanjutan di tengah pembangunan Nusantara.[]
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan