Lonjakan laporan UFO di Jerman dalam lima tahun terakhir sebagian besar dipicu kesalahan identifikasi objek langit dan faktor psikologis manusia.
BERLIN – Mayoritas laporan benda terbang tak dikenal atau Unidentified Flying Object (UFO) di Jerman ternyata bukan fenomena misterius, melainkan kesalahan persepsi terhadap objek langit seperti satelit, meteor, hingga efek psikologis manusia. Temuan ini diungkap Jaringan Penelitian Pusat untuk Fenomena Anomali atau Central European Network for Anomalous Phenomena (CENAP), yang telah menangani ribuan laporan selama puluhan tahun.
Peneliti senior CENAP, Hansjrgen Khler, menyebut lonjakan laporan dalam lima tahun terakhir lebih banyak dipicu meningkatnya aktivitas teknologi luar angkasa dan minimnya pemahaman masyarakat tentang astronomi. “Kemudian kami bisa memeriksa komputer dan melihat persis apa yang dilihat oleh penelepon,” kata Khler, sebagaimana diwartakan Detiknews, Selasa (14/04/2026).
CENAP mencatat sejak berdiri pada 1976 telah menerima 13.621 laporan penampakan UFO. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya berhasil dijelaskan secara ilmiah, dengan hanya 89 kasus yang masih belum terpecahkan. Pada 2025 saja, terdapat 1.348 laporan yang masuk.
Menurut Khler, sekitar 40 persen laporan dapat ditelusuri berasal dari teknologi ruang angkasa, termasuk satelit Starlink milik Elon Musk yang sering memunculkan efek kilauan ekstrem di langit malam. Selain itu, fenomena alam seperti meteor, bintang terang seperti Sirius, hingga pantulan cahaya dari balon atau pertunjukan laser juga kerap disalahartikan sebagai UFO.
Tak hanya faktor objek, kesalahan persepsi manusia turut berperan besar. Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai pareidolia, yakni kecenderungan otak melihat pola atau makna tertentu dari objek acak. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh faktor kelelahan, stres, maupun ekspektasi individu.
Khler menegaskan dirinya bersikap skeptis terhadap klaim keberadaan UFO sebagai pesawat alien. Ia menyebut pekerjaannya lebih menyerupai investigasi ilmiah ketimbang pencarian makhluk luar angkasa. Dalam menangani laporan, CENAP menggunakan perangkat lunak astronomi, data penerbangan, hingga informasi dari badan antariksa untuk mengidentifikasi objek yang dilaporkan.
Dalam praktiknya, tim CENAP bahkan kerap menerima laporan dalam kondisi emosional dari masyarakat. “Menelepon itu membantu,” ujar Khler. Ia menilai banyak pelapor merasa lega setelah mendapatkan penjelasan rasional atas apa yang mereka lihat.
Salah satu kasus yang ditangani melibatkan seorang perempuan yang mengaku mengejar UFO lintas negara. Setelah diselidiki, objek yang dilihat ternyata fase bulan yang berubah-ubah akibat gangguan penglihatan. Kasus lain yang sempat dilaporkan sebagai kemunculan alien di Portugal, ternyata merupakan aktivitas penyelaman malam hari di kawasan pantai.
Layanan CENAP sendiri beroperasi selama 24 jam, menerima laporan melalui telepon, surat elektronik, hingga aplikasi pesan. Waktu tersibuk biasanya terjadi pada malam hari, terutama saat terjadi hujan meteor atau aktivitas langit lainnya yang menarik perhatian publik.
Dalam perkembangan terbaru, Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) juga mulai merujuk beberapa kasus kepada CENAP. Salah satunya terkait fenomena langit di Norwegia yang akhirnya diketahui berasal dari peluncuran roket dalam kondisi suhu ekstrem.
Meski menolak klaim UFO sebagai bukti kehadiran makhluk asing, Khler tidak menutup kemungkinan adanya kehidupan lain di luar Bumi. Namun, ia menegaskan belum ada bukti bahwa entitas tersebut pernah datang ke planet ini. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan