Penurunan kualitas perairan dan aktivitas manusia diduga menjadi penyebab utama berkurangnya kemunculan pesut di Sungai Sesayap.
TANA TIDUNG – Ancaman terhadap kelestarian pesut (Orcaella brevirostris) di perairan Sungai Sesayap kian mengkhawatirkan, seiring menurunnya frekuensi kemunculan mamalia dilindungi tersebut dalam beberapa tahun terakhir akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.
Penurunan ini terpantau berdasarkan hasil pengamatan lapangan serta laporan nelayan di wilayah Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya di sekitar Kecamatan Sesayap dan kawasan pelabuhan lama.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Tana Tidung, Herni, menyebutkan bahwa kemunculan pesut dulunya cukup sering terlihat di pinggiran sungai dekat permukiman warga.
“Sekitar dua tahun lalu, saat saya masih tinggal di pinggir sungai dekat Pelabuhan Lama, pesut sering muncul pada saat air guris. Bahkan subuh sekitar jam 5 sampai 6 pagi, mereka bermain di belakang rumah. Biasanya muncul dalam kelompok kecil, sekitar tiga sampai empat ekor,” ujarnya, sebagaimana dilansir Radar Tarakan, Selasa (14/04/2026).
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, keberadaan pesut dilaporkan semakin jarang terlihat. Meski masih sesekali muncul di wilayah Sedulun dan pelabuhan lama Sesayap, jumlahnya dinilai tidak sebanyak sebelumnya.
“Karena saya sudah pindah ke atas, saya jarang lagi memantau. Informasi dari nelayan masih ada, tapi tidak sesering dulu. Kemungkinan memang terjadi penurunan populasi,” jelasnya.
Herni mengungkapkan, menurunnya kualitas perairan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keberlangsungan habitat pesut. Limbah dari aktivitas industri dan rumah tangga, serta penumpukan sampah, dinilai memperburuk kondisi lingkungan perairan.
“Kalau habitatnya sudah tidak layak, pesut pasti akan bermigrasi mencari tempat yang lebih baik dan sumber makanan yang cukup,” terangnya.
Selain itu, praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan setrum dan racun turut memperparah kerusakan ekosistem perairan.
“Kami terus melakukan pengawasan dan pembinaan kepada masyarakat agar tidak menggunakan alat tangkap seperti setrum dan racun. Cara-cara itu sangat merusak, karena bisa membunuh semua biota, mulai dari ikan kecil hingga mikroorganisme yang menjadi bagian penting dalam rantai makanan,” tegasnya.
Ia menambahkan, rusaknya rantai makanan di perairan akan berdampak langsung pada keberadaan spesies besar, termasuk pesut yang bergantung pada ketersediaan ikan sebagai sumber pakan.
“Kalau sumber makanan hilang, otomatis pesut juga akan bermigrasi. Itu sebabnya penting menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.
Dalam pengawasan terpadu yang dilakukan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara pada Agustus 2025, ditemukan kasus pesut yang terjerat alat tangkap nelayan di wilayah pesisir Tana Lia.
“Saat pengawasan di wilayah pesisir Tana Lia, kami menemukan pesut masuk dalam pukat kurau yang dioperasikan di bawah 5 mil. Itu sangat memprihatinkan, karena pesut yang terjaring biasanya mati dan tidak bisa diselamatkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyayangkan masih adanya praktik pemanfaatan pesut oleh sebagian nelayan setelah terjerat jaring.
“Ada yang dijual dan ada juga yang dikonsumsi. Ini menjadi perhatian serius, karena menunjukkan masih kurangnya kesadaran akan perlindungan satwa tersebut,” ujarnya.
Herni mengakui, upaya pengawasan dan perlindungan pesut masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan anggaran yang membuat kegiatan pengawasan belum dapat dilakukan secara rutin.
“Kegiatan pengawasan belum bisa dilakukan secara rutin karena keterbatasan anggaran. Tapi kami berharap ke depan bisa diakomodir, karena ini sangat penting untuk menjaga kelestarian perairan kita,” katanya.
Pemerintah daerah berharap kesadaran masyarakat serta dukungan lintas sektor dapat ditingkatkan guna menjaga keberadaan pesut sebagai bagian penting dari ekosistem perairan di Tana Tidung.
Fenomena ini menjadi peringatan akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, agar spesies langka seperti pesut tidak semakin terancam di habitat alaminya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan