Kebakaran panti asuhan di Tarakan diduga dipicu tumpahan bensin, memaksa puluhan penghuni mengungsi meski tanpa korban jiwa.
TARAKAN – Kebakaran yang melanda Panti Asuhan Arrohimin di Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, Senin (14/03/2026) siang, memaksa puluhan penghuni panti mengungsi setelah bangunan tempat tinggal mereka hangus terbakar.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.45 Wita itu menghanguskan sebagian besar bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal pengurus dan anak-anak panti. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut menyebabkan kerugian material dan mengganggu aktivitas para penghuni.
Kepala Seksi (Kasi) Pemadam Kebakaran (PMK) pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan PMK Tarakan, Irwan, mengatakan tim langsung bergerak cepat setelah menerima laporan kebakaran.
“Begitu sampai di lokasi, petugas langsung melakukan pemadaman dan upaya pemblokiran api agar tidak merambat ke bangunan lain,” ujarnya, sebagaimana dilansir Harian Rakyat Kaltara, Senin, (14/03/2026).
Ia menjelaskan, upaya pengendalian api difokuskan pada sisi kiri dan kanan bangunan guna mencegah penyebaran ke rumah warga di sekitar lokasi. Sebanyak tiga armada dikerahkan dalam proses pemadaman, terdiri dari dua unit truk suplai berkapasitas 5 ton dan satu unit mobil pemadam, dengan dukungan sekitar 25 personel.
“Alhamdulillah tidak ada kendala di lapangan. Proses pemadaman berjalan lancar karena lokasi tidak terlalu padat penduduk,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tarakan Utara, Ghazy Prima Daffa Ohoirat, menjelaskan bangunan yang terbakar merupakan rumah kontrakan yang digunakan sebagai panti asuhan. Bagian yang terdampak meliputi dapur, kamar tidur, dan ruang tengah.
“Yang tersisa hanya bagian ruang belajar. Untuk bagian rumahnya yang digunakan sebagai tempat tinggal sebagian besar terbakar,” jelasnya.
Saat kejadian, terdapat sekitar 20 orang di dalam panti, terdiri dari 14 anak, pengurus, serta seorang ustadzah. Beruntung, seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri.
Kapolsek mengungkapkan, dugaan awal penyebab kebakaran berkaitan dengan aktivitas penanganan bahan bakar di lokasi.
“Informasinya, saat itu ada santri yang sedang menuang bensin ke botol. Sempat terjadi tumpahan bensin, dan dari situ diduga menjadi pemicu kebakaran. Namun, untuk sumber api masih dalam penyelidikan,” ungkapnya.
Dari keterangan saksi, api diduga pertama kali muncul di area kamar dekat mesin cuci, lokasi yang sama dengan tumpahan bahan bakar. Hingga kini, polisi telah memeriksa sedikitnya tiga saksi untuk mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut.
Dalam insiden itu, satu santri mengalami luka ringan di bagian tangan akibat pecahan kaca saat berusaha menyelamatkan dokumen penting.
“Korban sudah sempat dibawa ke puskesmas dan kini sudah kembali ke panti,” imbuhnya.
Saat ini, lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi dan masih dalam proses penyelidikan oleh Tim Identifikasi Kepolisian Resor (Polres) Tarakan. Aparat juga berkoordinasi dengan pemerintah setempat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk penanganan pascakejadian.
Para penghuni panti untuk sementara waktu dipindahkan ke tempat penampungan darurat, sembari menunggu solusi hunian sementara yang sedang disiapkan bersama berbagai pihak.
“Kami masih berkoordinasi untuk tempat tinggal sementara bagi anak-anak panti, sambil menunggu penanganan lebih lanjut,” tutupnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dalam penggunaan bahan mudah terbakar di lingkungan permukiman, khususnya di fasilitas yang dihuni banyak orang. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan