Lonjakan serangan drone di Sudan menewaskan ratusan warga sipil dan memperparah krisis kemanusiaan di tengah minimnya dukungan global.
KHARTOUM – Krisis kemanusiaan di Sudan kian memburuk seiring meningkatnya intensitas serangan drone yang menewaskan hampir 700 warga sipil hanya dalam tiga bulan pertama 2026, mempertegas kegagalan global dalam merespons konflik berkepanjangan di negara tersebut.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti bahwa eskalasi kekerasan ini terjadi di tengah perang antara militer Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (Rapid Support Forces/RSF) yang kini memasuki tahun keempat. Konflik tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa lebih dari 11 juta warga mengungsi, sekaligus memperparah kondisi kelaparan di berbagai wilayah.
Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, menyampaikan bahwa serangan drone yang terjadi hampir setiap hari telah mengganggu kehidupan masyarakat secara luas. “Dalam tiga bulan pertama tahun ini, hampir 700 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan-serangan drone,” kata Fletcher dalam pernyataan terbaru, sebagaimana dilansir Detiknews, Selasa (14/04/2026).
Menurut Fletcher, wilayah Kordofan Selatan dan daerah barat seperti Darfur menjadi episentrum konflik yang paling terdampak. Ia menegaskan bahwa jutaan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, bahkan berulang kali berpindah demi keselamatan.
“Jutaan orang telah diusir dari rumah-rumah mereka di seluruh Sudan dan di luar perbatasannya, dengan seluruh komunitas dikosongkan dan keluarga-keluarga dipindahkan berulang kali. Risiko ketidakstabilan regional yang lebih luas sangat tinggi,” sebut Fletcher.
Lebih jauh, Fletcher mengungkapkan bahwa dampak konflik tidak hanya terlihat dari korban jiwa, tetapi juga dari kehancuran sistem sosial. Hampir 34 juta orang kini membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk ratusan ribu anak yang mengalami kekurangan gizi akut dan jutaan lainnya kehilangan akses pendidikan. Perempuan dan anak perempuan juga menghadapi kekerasan seksual yang disebutnya bersifat sistemik dan brutal.
PBB mencatat bahwa pada tahun sebelumnya, bantuan kemanusiaan berhasil menjangkau sekitar 17 juta orang, dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 20 juta penerima manfaat. Namun, keterbatasan pendanaan menjadi hambatan utama dalam upaya tersebut.
“Respons tersebut sangat kekurangan dana,” ujar Fletcher.
Ia menambahkan, “Kita membutuhkan tindakan sekarang — untuk menghentikan kekerasan, melindungi warga sipil, memastikan akses ke komunitas yang paling terancam, dan mendanai respons tersebut. Peringatan yang suram dan menyedihkan ini menandai satu tahun lainnya ketika dunia gagal menghadapi ujian Sudan.”
Sementara itu, Koordinator Tetap PBB di Sudan, Denise Brown, mengungkapkan bahwa dari kebutuhan dana sebesar US$ 2,9 miliar untuk tahun ini, baru sekitar 16 persen yang berhasil dihimpun dari komunitas internasional.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tanpa dukungan global yang lebih kuat, krisis di Sudan berpotensi semakin meluas dan berdampak pada stabilitas kawasan.[]
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan