Krisis Minyak Picu Ledakan Penjualan Mobil Listrik di Asia Tenggara

Lonjakan harga bahan bakar akibat krisis energi global mendorong peralihan besar-besaran konsumen Asia Tenggara ke kendaraan listrik.

LONDON – Lonjakan harga bahan bakar akibat gangguan pasokan minyak global mendorong perubahan perilaku konsumen di Asia Tenggara, dengan peralihan signifikan ke kendaraan listrik sebagai alternatif yang dinilai lebih hemat dan stabil di tengah ketidakpastian energi.

Perubahan ini dipicu krisis energi yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah, yang berdampak langsung pada distribusi minyak mentah ke kawasan Asia. Ketergantungan tinggi negara-negara Asia terhadap impor energi membuat lonjakan harga bahan bakar sulit dihindari, sehingga mendorong masyarakat mencari solusi transportasi yang lebih efisien.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya penjualan kendaraan listrik, terutama di Asia Tenggara yang menjadi pasar utama ekspor produsen asal China. Data asosiasi industri China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan bahwa ekspor kendaraan listrik China meningkat dua kali lipat pada Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Anda melihat respons konsumen individu terhadap apa yang mereka lihat terkait harga bensin atau solar yang tiba-tiba melonjak,” kata Euan Graham, analis listrik dan data di lembaga think tank energi Ember, sebagaimana diwartakan Kompas, Selasa (14/04/2026).

Peningkatan minat ini tidak hanya terjadi di Asia Tenggara. Laporan Capital Economics mencatat lonjakan pendaftaran kendaraan listrik di sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru yang meningkat lebih dari dua kali lipat pada Maret. Sementara itu, India dan Australia mencatat kenaikan lebih dari 50 persen.

Di tingkat kawasan, Indonesia disebut mulai mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional sebagai respons terhadap tingginya konsumsi energi berbasis fosil. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus menekan beban ekonomi masyarakat akibat fluktuasi harga bahan bakar.

Kondisi tersebut turut menguntungkan produsen kendaraan listrik, termasuk dari Vietnam. Produsen VinFast mencatat lonjakan penjualan hingga 127 persen secara tahunan pada Maret 2026 dengan total 27.600 unit kendaraan terjual.

“Saat ini, klien sangat mempertimbangkan biaya bahan bakar ketika memutuskan mobil mana yang akan dibeli,” kata Pham Minh Hai, wakil kepala penjualan di showroom VinFast.

Hai menambahkan bahwa penjualan di showroomnya meningkat menjadi 300 hingga 400 unit per bulan, dari sebelumnya sekitar 200 hingga 250 unit. Bahkan, lebih dari 50 persen konsumen beralih dari kendaraan berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik dalam satu bulan terakhir.

Di sisi lain, produsen kendaraan listrik China seperti BYD juga memperluas pangsa pasar di Asia Tenggara, khususnya di Thailand dan Filipina. Dalam ajang pameran otomotif di Bangkok, BYD untuk pertama kalinya melampaui produsen asal Jepang dalam jumlah pemesanan kendaraan.

Kondisi serupa terjadi di Filipina, di mana lonjakan harga bahan bakar turut meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. “Semua itu karena kenaikan harga bahan bakar,” kata Mae Anne Clarisse Bacquiano, manajer showroom BYD di Manila, seraya menyebut seluruh stok kendaraan untuk bulan tersebut telah habis dipesan.

Secara global, tren ini memperlihatkan bahwa krisis energi tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga momentum percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan efisien. Produsen kendaraan listrik bahkan memproyeksikan ekspor global pada 2026 dapat melampaui 1,5 juta unit, melebihi target awal 1,3 juta unit. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com