Iran membantah laporan cedera parah Mojtaba Khamenei dan menegaskan kondisinya stabil meski terjadi serangan udara yang memicu konflik besar di Timur Tengah.
TEHERAN – Kepastian kondisi Mojtaba Khamenei pascaserangan udara Amerika Serikat (AS)–Israel pada 28 Februari lalu akhirnya diklarifikasi otoritas Iran. Pemerintah setempat menegaskan, pemimpin tertinggi baru Iran itu hanya mengalami cedera ringan di bagian kaki, sekaligus membantah kabar luka parah yang sebelumnya beredar luas.
Pejabat senior Iran, Azim Ebrahimpour, menjelaskan bahwa cedera tersebut terjadi akibat ledakan rudal yang menghantam kompleks kediaman ayah Mojtaba, Ali Khamenei. Saat kejadian, Mojtaba berada di halaman kompleks dan terkena dampak ledakan.
Ebrahimpour menegaskan, informasi mengenai kondisi luka berat yang sempat ramai diberitakan merupakan berita palsu yang sengaja disebarkan untuk memicu ketegangan internal. Pernyataan itu disampaikan sebagaimana dilansir Iran International, Senin (20/04/2026), dalam upaya meluruskan spekulasi yang berkembang di tengah konflik.
Sebelumnya, sejumlah laporan media internasional menyebut Mojtaba mengalami cedera serius, termasuk kerusakan pada wajah serta luka berat pada satu atau kedua kakinya. Namun, klaim tersebut kini dibantah oleh otoritas Iran yang menyatakan kondisinya stabil dan dalam tahap pemulihan.
Meski masih menjalani perawatan, Mojtaba dilaporkan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan strategis selama konflik berlangsung. Hal ini menunjukkan peran sentralnya dalam struktur kekuasaan Iran pascaserangan yang mengguncang kepemimpinan negara tersebut.
Serangan udara gabungan AS–Israel pada 28 Februari itu memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Selain menewaskan Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya, serangan tersebut juga memperburuk ketegangan geopolitik serta berdampak pada stabilitas energi global.
Dalam waktu sekitar sepekan setelah peristiwa tersebut, Mojtaba ditunjuk sebagai pengganti ayahnya untuk memimpin Iran. Namun, sejak penunjukan itu, ia belum pernah tampil di ruang publik, sehingga memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.
Klarifikasi terbaru dari otoritas Iran diharapkan dapat meredam spekulasi yang beredar sekaligus memberikan kepastian informasi terkait kondisi pemimpin tertinggi baru negara tersebut di tengah situasi konflik yang masih berlangsung. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan