Kartini Diangkat ke Panggung Global Lewat UNESCO

Peringatan Hari Kartini di UNESCO Paris menegaskan relevansi pemikiran Kartini dalam isu pendidikan dan kesetaraan gender global.

PARIS – Peringatan Hari Kartini di tingkat internasional menjadi momentum diplomasi budaya Indonesia, ditandai dengan penyelenggaraan acara bertajuk “Surat Kartini: Percikan Ingatan Dunia” di Kantor Pusat Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO) di Paris, Selasa (21/4/2026).

Kegiatan yang digelar oleh Kantor Wakil Tetap Republik Indonesia (KWRI) untuk UNESCO bekerja sama dengan Delegasi Tetap Kerajaan Belanda untuk UNESCO ini dihadiri sekitar 100 delegasi dari berbagai negara. Mereka memberikan apresiasi terhadap pemikiran Raden Ajeng Kartini yang dinilai melampaui zamannya, khususnya dalam isu pendidikan dan kesetaraan gender.

Dalam forum tersebut, surat-surat Kartini dipaparkan sebagai warisan intelektual yang tidak hanya berisi refleksi pribadi, tetapi juga gagasan progresif tentang keadilan sosial, pendidikan, dan emansipasi perempuan.

Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia (RI) untuk UNESCO Mohamad Oemar menegaskan relevansi pemikiran Kartini dalam konteks global saat ini. “Kartini percaya bahwa pendidikan adalah fondasi emansipasi,” ujar Oemar, sebagaimana diberitakan Metrotvnews, Selasa (21/04/2026).

“Melalui pemikirannya, ia menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya tentang keadilan sosial, tetapi juga kunci pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” sambungnya.

Menurut Oemar, nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga memberikan inspirasi bagi masyarakat dunia dalam mendorong kesetaraan dan pembangunan berkelanjutan.

Kolaborasi antara Indonesia dan Belanda dalam penyelenggaraan acara ini juga mencerminkan upaya memperkuat dialog budaya serta memperluas pengakuan internasional terhadap kontribusi tokoh perempuan Indonesia di kancah global.

Ke depan, penguatan diplomasi budaya melalui forum internasional seperti UNESCO diharapkan mampu memperkenalkan lebih luas pemikiran tokoh nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam isu-isu global, khususnya terkait pendidikan dan kesetaraan gender. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com