Insiden tersebut menimpa rumah milik Yohanes Kalvin yang saat kejadian sedang menghadiri pemakaman keluarga. Kondisi rumah yang terkunci membuat warga kesulitan melakukan penanganan awal ketika api mulai membesar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas Hulu (Kapuas Hulu), Gunawan, menjelaskan warga sekitar sempat berupaya melakukan pemadaman secara mandiri, meski dengan keterbatasan peralatan.
“Warga sempat mendobrak pintu karena terkunci. Tapi api sudah membesar di ruang tamu,” kata Gunawan, Rabu (220/4/2026), sebagaimana dilansir Insidepontianak, Rabu, (22/004/2026).
Api baru dapat dikendalikan sekitar pukul 10.30 WIB setelah warga berjibaku selama hampir satu jam. Namun, keterbatasan sarana pemadam membuat api terlanjur melalap seluruh bangunan hingga tidak tersisa selain puing.
“Tidak ada korban jiwa,” jelasnya.
Berdasarkan keterangan saksi, sumber api diduga berasal dari dapur akibat korsleting listrik. Dugaan ini memperkuat pentingnya pengawasan instalasi listrik rumah tangga, khususnya pada bangunan yang ditinggalkan dalam waktu tertentu.
Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan perlunya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kebakaran, mulai dari penyediaan alat pemadam sederhana hingga edukasi penanganan dini. BPBD Kapuas Hulu (Kapuas Hulu) pun menegaskan pentingnya langkah preventif guna meminimalkan risiko kerugian yang lebih besar.
“Pastikan kondisi rumah aman sebelum bepergian. Musibah bisa datang kapan saja,” ujar Gunawan.
Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp400 juta, karena seluruh isi rumah tidak dapat diselamatkan. Ke depan, penguatan sistem mitigasi berbasis masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan potensi kejadian serupa di wilayah permukiman padat. []
Redaksi