Program rutin empat kali sebulan ini menjadi strategi MAN Paser menanamkan kebiasaan membaca dan membangun generasi kritis sejak dini.
PASER – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Paser rutin menggelar program “Jumat Literasi” empat kali dalam sebulan sebagai upaya membangun budaya membaca di lingkungan madrasah. Program ini dinilai menjadi langkah konkret dalam menanamkan kebiasaan literasi sejak dini kepada peserta didik.
Guru Bahasa Indonesia MAN Paser, Mustofa, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar rutinitas, melainkan bagian dari strategi membangun kesadaran literasi di kalangan siswa. “Jadi kita memang ada kegiatan rutin Jumat Literasi namanya, sebagai bentuk menanamkan kesadaran literasi sejak dini”, ungkap Mustofa, Senin (27/04/2026).
Ia menjelaskan, pelaksanaan Jumat Literasi yang bertepatan dengan Hari Buku Sedunia digelar berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya kegiatan dilakukan di musala, pada momentum tersebut kegiatan dipusatkan di lapangan madrasah dengan melibatkan seluruh civitas akademika MAN Paser.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh siswa diwajibkan membawa buku dari rumah. Bahkan, sebagian siswa membawa lebih dari satu buku. Selama sekitar 30 menit, siswa membaca buku yang dibawa, kemudian menyampaikan ulasan atau ringkasan isi buku di hadapan teman-temannya sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Kalau diperhatikan mereka sangat antusias ya. Dari awal kita memang mendorong siswa untuk meminjam buku di perpustakaan. Namun, untuk kegiatan spesial memperingati hari buku tersebut, anak-anak di wajibkan membawa buku sendiri dari rumah”,
Menurut Mustofa, kebijakan membawa buku dari rumah bertujuan agar siswa membaca tidak hanya di sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga. Dengan demikian, budaya literasi diharapkan dapat terbentuk secara berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa budaya literasi tidak dapat tumbuh secara instan, melainkan harus dibangun melalui pembiasaan sejak jenjang pendidikan dasar. “Kita optimistis literasi Indonesia bisa naik, asal ditanamkan dari SD/MI dan SMP. Kalau baru dipaksa baca di SMA tanpa pembiasaan sebelumnya, tentu hasilnya tidak maksimal,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mustofa menilai program Jumat Literasi dirancang agar kegiatan membaca tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan yang melekat pada diri siswa.
Menurutnya, siswa yang terbiasa membaca sejak dini akan tumbuh menjadi individu yang kritis, mandiri, dan memiliki daya saing. “Kuncinya ada di pembiasaan. Membaca harus jadi budaya, bukan beban,” pungkasnya.
Melalui program tersebut, MAN Paser berupaya membuktikan bahwa budaya membaca dapat tumbuh melalui konsistensi dan pembiasaan yang dilakukan secara terstruktur di lingkungan pendidikan. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan