Diskoprindag Berau menyusun kajian dan basis data 10 komoditas unggulan IKM untuk memperkuat pembinaan, akses permodalan, standardisasi produk, dan pemasaran pelaku usaha lokal.
BERAU – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoprindag) Kabupaten Berau mulai menyusun kajian lengkap dan basis data Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk memetakan 10 komoditas unggulan daerah. Langkah ini disiapkan agar program pembinaan, pendampingan, akses permodalan, hingga pemasaran produk pelaku usaha dapat dilakukan lebih terarah dan tepat sasaran.
Penyusunan kajian tersebut dilaksanakan Diskoprindag Berau bekerja sama dengan Tim Pusat Kajian Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah Universitas Mulawarman, Samarinda. Kegiatan dibuka Kepala Diskoprindag Berau Eva Yunita di ruang rapat lantai 2 Kantor Diskoprindag Berau, Kamis (11/06/2026), sebagaimana diberitakan Diskominfo, Kamis, (11/06/2026).
Kegiatan itu dihadiri sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, serta perwakilan Pejuang Sigap. Melalui kajian tersebut, pemerintah daerah ingin memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi pelaku IKM di berbagai wilayah Berau, termasuk jenis usaha, kebutuhan pembinaan, kendala produksi, serta potensi pengembangan pasar.
Eva menjelaskan, IKM memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi daerah karena mampu menyerap tenaga kerja, mendorong pemerataan kesejahteraan, dan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah. Pengembangan IKM juga sejalan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian yang mendorong sektor industri agar berdaya saing dan berbasis inovasi.
Berau memiliki kekayaan sumber daya alam dari sektor hutan, perkebunan, kelautan, hingga pariwisata. Namun, sebagian komoditas lokal masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi belum sepenuhnya dinikmati masyarakat daerah.
Selain itu, sejumlah persoalan masih dihadapi pelaku IKM, mulai dari keterbatasan keterampilan pengolahan, penggunaan teknologi sederhana, hingga belum tersedianya data pelaku usaha yang lengkap dan terstruktur berdasarkan jenis komoditas. Kondisi ini membuat intervensi program pembinaan belum sepenuhnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap usaha.
Dalam kajian ini, Diskoprindag Berau menetapkan 10 komoditas prioritas yang tersebar di seluruh kecamatan. Komoditas tersebut meliputi olahan ikan laut, kelapa sawit, karet, lada, kakao, produk kayu dan mebel, kerajinan rotan dan bambu, olahan buah tropis, tanaman obat, serta rumput laut.
Data yang dihimpun nantinya digunakan untuk memetakan kebutuhan pelaku usaha, mulai dari pelatihan teknis, standardisasi mutu produk, akses permodalan, hingga strategi pemasaran. Pemerintah daerah juga menilai posisi Berau yang berdekatan dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim) membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk IKM lokal.
“Dengan data yang jelas, kami dapat menyusun program yang tepat. Ke depan, kami juga akan memfasilitasi promosi melalui pameran serta menyediakan tempat khusus untuk memajang hasil karya IKM agar semakin dikenal luas,” ungkapnya.
Melalui penyusunan kajian dan basis data tersebut, Diskoprindag Berau berharap pengembangan IKM tidak hanya berhenti pada pendataan, tetapi menjadi dasar penyusunan kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing produk lokal, memperluas pasar, dan memperkuat nilai tambah ekonomi masyarakat. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan