Keterbatasan ruang di RS Sayang Ibu Balikpapan Barat membuat pemanfaatan alat medis belum optimal dan berpotensi mengganggu pelayanan kesehatan masyarakat.
BALIKPAPAN — Keterbatasan ruang di Rumah Sakit (RS) Sayang Ibu Balikpapan Barat menjadi sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat optimalisasi pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama dalam pemanfaatan peralatan medis yang telah tersedia.
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Yusdiana, mengungkapkan pihaknya menerima laporan langsung dari perwakilan rumah sakit terkait belum maksimalnya penataan fasilitas. Ia menyebut, persoalan utama saat ini adalah keterbatasan ruang untuk menampung peralatan medis.
“Kami mendapat laporan bahwa memang ruangannya sangat terbatas. Peralatan sudah ada, tapi belum semuanya bisa dimanfaatkan karena keterbatasan tempat,” ujarnya, Selasa (28/04/2026) di Gedung DPRD Balikpapan.
Ia juga menyampaikan, terdapat pembangunan di bagian belakang gedung rumah sakit. Namun, hingga kini belum ada kepastian terkait kelanjutan proyek tersebut. “Ada pembangunan di belakang, tapi belum jelas kelanjutannya. Ini yang perlu kita dorong agar ada kejelasan,” katanya.
Menurut Yusdiana, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena tidak hanya berdampak pada penempatan alat kesehatan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan kepada pasien.
Dia menegaskan, apabila peralatan medis yang telah diadakan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, maka tujuan peningkatan layanan kesehatan tidak akan tercapai. “Peralatannya ada, tapi kalau tidak bisa dipakai maksimal, kan sayang. Ini harus jadi perhatian serius,” tegasnya.
Selain itu, ia menyebut masih terdapat sejumlah ruang kosong yang dapat dimanfaatkan sementara sebagai solusi jangka pendek sembari menunggu kejelasan pembangunan lanjutan. “Informasinya masih ada ruang di bagian atas yang bisa dimanfaatkan. Kalau memang memungkinkan, itu bisa digunakan dulu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan ruang harus dibarengi dengan penataan yang lebih baik agar fungsi setiap ruangan dapat berjalan optimal. Tanpa penataan yang tepat, menurutnya, penambahan fasilitas tidak akan memberikan dampak signifikan.
“Penataan ini penting. Jangan sampai ruang ada, tapi tidak dimanfaatkan dengan baik,” kata Yusdiana.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pelayanan kesehatan, khususnya bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, tidak boleh terganggu. Ia menyebut RS Sayang Ibu sebagai salah satu fasilitas rujukan utama masyarakat, sehingga kualitas layanan harus tetap terjaga.
“Ini pelayanan wajib, apalagi untuk BPJS. Masyarakat banyak bergantung ke rumah sakit ini, jadi tidak boleh kita abaikan,” ujarnya.
Yusdiana menegaskan DPRD melalui Komisi IV akan mendorong agar persoalan tersebut segera menjadi perhatian dalam pembahasan anggaran. Ia menilai kebutuhan yang bersifat mendesak harus menjadi prioritas utama.
“Kami akan dorong di pembahasan anggaran. Yang penting kajiannya jelas dan fokus pada kebutuhan yang benar-benar prioritas,” tegasnya.
Ia memastikan DPRD akan terus mengawal persoalan tersebut agar tidak berlarut-larut tanpa solusi dan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. “Kami tidak ingin ini berlama-lama. Harus ada langkah nyata supaya pelayanan tidak terganggu,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Komisi IV DPRD Balikpapan membuka kemungkinan untuk melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap kondisi di lapangan guna memastikan kebutuhan riil rumah sakit.
“Ke depan tentu akan kita dalami lagi. Yang jelas, kebutuhan rumah sakit harus kita dukung,” pungkasnya. []
Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan