Perajin sepatu di Samarinda bertahan puluhan tahun menghadapi perubahan ekonomi dan gaya konsumsi masyarakat.
SAMARINDA – Seorang perajin sol sepatu di Samarinda, Pak Arif, tetap bertahan menjalani profesinya di tengah perubahan zaman dan dinamika pembangunan kota. Berlokasi di Jalan Gatot Subroto, tepat di depan akses Gang Masjid menuju Jalan Lambung Mangkurat, ia setia melayani jasa perbaikan alas kaki dengan keterampilan yang telah diasah selama puluhan tahun.
Pak Arif bukan pemain baru dalam dunia reparasi sepatu. Ia telah menekuni profesi tersebut sejak masa sekolah di kawasan Juanda, dan terus mengembangkan keahliannya hingga kini. Sebelum menetap di lokasi saat ini, ia pernah membuka jasa di kawasan Stadion Segiri selama satu dekade, yakni sejak 2007 hingga 2017.

“Saya dulu di daerah Stadion Segiri selama 10 tahun, dari tahun 2007 sampai 2017. Kalau urusan sol sepatu ini, sebenarnya saya sudah mulai sejak dulu di daerah Juanda, di sekitar kawasan SMP tempat saya sekolah dulu,” kenang Pak Arif saat ditemui di tempat praktiknya Rabu (29/04/2026).
Perjalanan usaha Pak Arif tidak selalu berjalan mulus. Ia beberapa kali harus berpindah lokasi akibat dampak kebijakan pembongkaran jalur di kota. Setelah sempat beroperasi di wilayah Wisma Kejajar selama dua setengah tahun, ia akhirnya menetap di lokasi sekarang selama lebih dari empat tahun terakhir.
Dari sisi ekonomi, Pak Arif turut merasakan perubahan nilai mata uang dan biaya hidup. Ia mengungkapkan, pada awal merintis usaha, jasa sol sepatu hanya dihargai sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000. Kini, tarif tersebut menyesuaikan dengan kondisi ekonomi saat ini, meski pendapatannya tetap bergantung pada jumlah pelanggan harian.
“Kalau sekarang pendapatannya ya biasa saja, kadang dapat Rp100.000, kadang lebih. Biasanya rata-rata Rp100.000 sampai Rp400.000. Namun, kalau sedang musim hari raya, peningkatannya bisa mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000 tambahan,” jelasnya.
Dengan disiplin tinggi, Pak Arif membuka lapaknya setiap hari paling lambat pukul 09.00 WITA dan bekerja hingga pukul 17.00 WITA. Ia melayani pelanggan satu per satu dengan teliti, memastikan setiap alas kaki yang diperbaiki kembali layak digunakan.
Kisah Pak Arif menjadi gambaran keteguhan pelaku usaha kecil di tengah maraknya produk sepatu murah sekali pakai. Keberadaan jasa perbaikan seperti miliknya tetap dibutuhkan, terutama oleh masyarakat yang mengutamakan kualitas dan ketahanan barang.[]
Penulis: Rifky Irlika Akbar | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan