AS meminta China membantu membuka kembali Selat Hormuz sambil menuding Beijing sebagai penyokong utama ekonomi Iran.
WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak China untuk terlibat dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz yang terganggu, di tengah tudingan bahwa Beijing menjadi penyokong utama ekonomi Iran melalui pembelian energi dalam jumlah besar.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa peran China dinilai krusial dalam meredakan ketegangan di kawasan tersebut. Ia menilai hubungan ekonomi antara China dan Iran turut memengaruhi dinamika konflik yang terjadi. “Iran adalah negara sponsor terorisme terbesar, dan China telah membeli 90 persen energi mereka, jadi mereka mendanai negara sponsor terorisme terbesar,” kata Bessent kepada Fox, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Selasa, (05/05/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang sebelumnya dilaporkan mengalami gangguan setelah Iran menutup jalur strategis itu menyusul serangan militer oleh AS dan Israel. Washington berharap Beijing dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk membantu menstabilkan situasi dan membuka kembali jalur distribusi energi global tersebut.
Tekanan diplomatik ini juga berkaitan dengan agenda kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China dalam waktu dekat. Dalam kunjungan itu, Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping, dengan isu keamanan kawasan dan stabilitas energi global diperkirakan menjadi pembahasan utama.
Situasi ini menunjukkan semakin kompleksnya hubungan geopolitik antara negara-negara besar, di mana kepentingan ekonomi, keamanan, dan diplomasi saling berkelindan di tengah konflik yang terus berkembang di Timur Tengah.
Perkembangan ini sebagaimana diberitakan Detiknews, Selasa, (05/05/2026), yang mengutip laporan media internasional terkait dinamika terbaru di Selat Hormuz.
Dengan peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, keterlibatan negara-negara besar seperti AS dan China dinilai akan sangat menentukan arah penyelesaian konflik serta stabilitas pasar energi global ke depan.[]
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan