DPRD Paser mendesak PDAM Tirta Kandilo Paser mempercepat modernisasi sistem setelah 837 keluhan teknis tercatat sepanjang 2025 dan kehilangan air akibat kebocoran mencapai 31 persen.
PASER – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Paser (Paser) mendesak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kandilo Paser mempercepat modernisasi sistem layanan air bersih setelah terungkap adanya kehilangan air hingga 31 persen akibat kebocoran pipa dan persoalan teknis lainnya.
Desakan itu mengemuka dalam rapat kerja gabungan komisi DPRD Paser bersama PDAM Tirta Kandilo Paser, Senin (18/05/2026), di ruang rapat Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapekat) DPRD Paser. Rapat tersebut digelar sebagai tindak lanjut berbagai aspirasi, pengaduan, dan keluhan masyarakat terkait layanan air bersih di Paser.
Rapat dipimpin Wakil Ketua II DPRD Paser Hendrawan Putra, didampingi Wakil Ketua I DPRD Paser Zulkifli Kaharuddin. Kegiatan tersebut juga dihadiri ketua dan anggota sejumlah komisi DPRD Paser.

Anggota Komisi II DPRD Paser Basri M mempertanyakan belum optimalnya layanan air bersih PDAM Tirta Kandilo Paser. Menurut dia, Pemerintah Daerah (Pemda) Paser telah membangun banyak jaringan air bersih melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi keluhan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir masih terus muncul.
“Kami mempertanyakan mengapa sampai saat ini belum optimal dalam mendistribusikan air bersih, padahal sudah banyak jaringan yang dibangun dengan APBD untuk mengoptimalkan layanan”, ungkap Basri.
Basri menilai, pembangunan jaringan air bersih semestinya berdampak langsung terhadap peningkatan pelayanan masyarakat. Namun, masih adanya warga yang belum mendapat akses air bersih secara layak menunjukkan perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap distribusi dan pengelolaan layanan.
Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Kandilo Paser Suryanto Agustono mengakui masih ada sejumlah wilayah yang belum terlayani secara maksimal. Ia menyebut, salah satu persoalan utama yang dihadapi perusahaan ialah kebocoran pipa yang menyebabkan kehilangan air hingga 31 persen dari total distribusi.
“Sepanjang 2025 kami mendata ada 837 keluhan masyarakat yang berkaitan dengan teknis, seperti kebocoran pipa, air keruh, maupun air mati. Terkait kebocoran pipa ini, menyebabkan kehilangan air sebesar 31 persen, sehingga yang mampu tersalurkan hanya 60 persen saja”, ungkap Agus.
Menanggapi hal itu, Ketua Komisi III DPRD Paser Zulfikar Yuliskatin mendesak PDAM Tirta Kandilo Paser memperbarui sistem pemantauan layanan. Menurut dia, modernisasi sistem perlu dilakukan agar kebocoran pipa dan gangguan distribusi air dapat terdeteksi lebih cepat.
“Dari pemaparan aset dan kas PDAM sebesar 40 milyar, seharusnya bisa digunakan untuk modernisasi sistem. Sehingga kebocoran air dan kerusakan pipa dapat dipantau dan dideteksi secara cepat”,
Zulfikar juga menyoroti pengelolaan dana perusahaan yang dinilai belum optimal karena masih mengendap. Ia menilai, dana tersebut seharusnya dapat diarahkan untuk memperbaiki kualitas layanan air bersih kepada masyarakat.
“Contohlah pengelolaan PDAM di Tabalong. Beberapa waktu lalu kami sempat kesana melihat terkait pengelolaan air. Dan disana, mereka dapat mengetahui kebocoran pipa dan kerusakan bahkan hanya melalui hp. Jadi daripada uang tersebut mengendap, alangkah lebih baiknya digunakan untuk modernisasi sistem, guna meningkatkan layanan air bersih kepada masyarakat “, Pungkasnya. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan