Penyelidikan AS mengarah pada dugaan penggunaan rudal dan teknologi militer buatan China oleh Iran dalam insiden jatuhnya jet tempur F-15E Strike Eagle pada April 2026.
TEHERAN – Dugaan penggunaan persenjataan dan teknologi militer buatan China oleh Iran menjadi sorotan setelah sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat (AS) dilaporkan ditembak jatuh dalam konflik yang terjadi pada April 2026. Informasi tersebut masih dalam penyelidikan otoritas AS dan berpotensi menambah kompleksitas hubungan Washington dengan Beijing.
Tiga sumber yang mengetahui perkembangan kasus tersebut menyebut Iran diduga menggunakan rudal buatan China yang diluncurkan dari bahu untuk menjatuhkan pesawat tempur AS. Insiden itu memicu operasi penyelamatan berisiko tinggi terhadap pilot yang berada di dalam pesawat.
Selain dugaan penggunaan rudal, Iran juga disebut kemungkinan memperoleh dukungan berupa radar peringatan dini jarak jauh yang mampu mendeteksi pesawat siluman. Informasi tersebut disampaikan oleh salah satu sumber dan seorang pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut.
Menurut sumber-sumber tersebut, para pejabat AS masih menyelidiki secara mendalam rangkaian peristiwa yang menyebabkan jatuhnya F-15E Strike Eagle pada April lalu. Peristiwa itu disebut menjadi pertama kalinya dalam beberapa dekade sebuah pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh tembakan musuh.
Hingga kini belum diketahui secara pasti kapan peralatan militer yang diduga berasal dari China itu diserahkan kepada Iran. Namun, dugaan keterlibatan teknologi militer China dinilai dapat memengaruhi dinamika hubungan diplomatik antara AS dan China.
Pada saat insiden terjadi, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pesawat F-15E Strike Eagle tersebut terkena rudal yang diluncurkan dari bahu. Sementara itu, proses investigasi masih berlangsung untuk memastikan jenis persenjataan yang digunakan dan pihak yang terlibat dalam pengadaan sistem tersebut.
Perkembangan penyelidikan ini menjadi perhatian karena muncul di tengah upaya AS mendorong keterlibatan China dalam meredakan konflik. Hasil investigasi nantinya diperkirakan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai peran teknologi militer asing dalam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, sebagaimana diberitakan Sindonews, Senin (01/06/2026). []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan