Bandara Israel Sesak Pesawat Tanker AS, 2,4 Juta Tiket Terancam Batal

Kepadatan pesawat tanker AS di Bandara Ben Gurion dan Bandara Ramon mengancam jutaan tiket penerbangan, menekan pariwisata, dan memperbesar beban ekonomi Israel di tengah perang dengan Iran.

TEL AVIV – Kepadatan pesawat tanker pengisian bahan bakar milik Amerika Serikat (AS) di sejumlah bandara Israel mulai menekan penerbangan sipil dan mengancam jutaan jadwal perjalanan musim panas. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap industri penerbangan, pariwisata, serta ketahanan publik Israel di tengah perang dengan Iran.

Menteri Transportasi Israel Miri Regev memperingatkan, keberadaan pesawat tanker AS di bandara-bandara Israel berpotensi membatalkan hingga 2,4 juta tiket penerbangan. Peringatan itu disampaikan Regev melalui surat kepada Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu, (14/06/2026).

“Ini adalah kerugian ekonomi langsung miliaran shekel bagi maskapai penerbangan, industri pariwisata, dan perekonomian,” tulis Regev dalam surat tersebut.

Regev juga menilai pembatalan penerbangan dalam jumlah besar dapat berdampak lebih luas, termasuk mengganggu moral nasional dan ketahanan sipil. Kekhawatiran itu muncul karena ruang parkir pesawat di bandara utama Israel kini banyak digunakan untuk kebutuhan militer AS.

Di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv, sekitar 72 pesawat tanker militer AS disebut terparkir dan mengisi lebih dari separuh ruang pesawat yang tersedia. Sementara itu, di Bandara Internasional Ramon, Israel selatan, sekitar 26 pesawat tanker menempati hampir 90 persen kapasitas parkir pesawat.

Menurut Regev, salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah memindahkan sedikitnya 30 pesawat tanker ke luar negeri atau ke pangkalan militer. Ia menyoroti belum adanya pesawat tanker AS yang ditempatkan di pangkalan udara militer Israel, meski keberadaannya telah membebani bandara sipil.

Seorang pejabat Israel menyatakan negaranya tetap menghargai dukungan AS dan masih menginginkan keberadaan pesawat tersebut. Namun, pemerintah Israel berharap beban operasional tidak hanya terpusat di bandara sipil.

“Kami hanya ingin mendistribusikan beban ke seluruh negeri,” ucapnya.

Tekanan terhadap sektor penerbangan Israel terjadi saat ketegangan AS, Israel, dan Iran masih berlangsung sejak perang pecah pada 28 Februari. Konflik itu dipicu persoalan program nuklir Iran dan klaim mengenai ancaman mendesak dari Teheran.

Iran kemudian membalas serangan dengan menyasar Israel serta sekutu-sekutunya di kawasan Teluk. Penutupan Selat Hormuz turut memukul jalur ekspor minyak dan gas global serta memperbesar tekanan ekonomi di kawasan.

Di tengah situasi tersebut, AS dan Iran disebut telah mencapai kesepakatan secara lisan untuk mengakhiri perang. Namun, sejumlah poin penting, terutama terkait program nuklir Iran, masih belum sepenuhnya disepakati kedua pihak.

Presiden AS Donald Trump menyatakan penandatanganan kesepakatan dengan Iran dijadwalkan berlangsung pada Minggu (14/06/2026). Ia menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka setelah kesepakatan tersebut ditandatangani.

“Kesepakatan dijadwalkan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA,” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Sabtu (13/06/2026) pukul 23.45 waktu setempat.

Jika penempatan pesawat tanker AS tidak segera diatur ulang, gangguan terhadap bandara sipil Israel berpotensi berlanjut dan memperbesar tekanan terhadap maskapai, pariwisata, serta mobilitas warga pada musim panas. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com