ilustrasi

Tiga Kecamatan di Kayong Utara Jadi Fokus Penanganan Karhutla

BPBD Kayong Utara meningkatkan patroli dan operasi water bombing setelah kebakaran yang diduga dipicu aktivitas pembukaan lahan terdeteksi di sejumlah wilayah.

KAYONG UTARA – Aktivitas pembukaan lahan diduga menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara (KKU), Kalimantan Barat (Kalbar). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KKU kini memusatkan pengawasan dan penanganan di Kecamatan Pulau Maya, Kecamatan Simpang Hilir, dan Kecamatan Sukadana.

Dugaan tersebut menguat setelah tim lapangan menemukan lokasi kebakaran umumnya berdekatan dengan kebun yang dikelola masyarakat. Ancaman kebakaran juga meningkat karena musim kemarau datang lebih cepat dan diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD KKU Fathul Bahri mengatakan peningkatan titik panas atau hotspot mulai terpantau sejak awal Juni 2026 di sejumlah desa.

“Titik panas mulai meningkat sejak 4 Juni di Desa Pemangkat, Desa Satai Lestari, dan Desa Mata-Mata,” ujar Fathul Bahri saat dikonfirmasi, sebagaimana diberitakan Tribun Pontianak, Minggu, (12/07/2026).

Berdasarkan pantauan satelit dan pemeriksaan Tim Reaksi Cepat (TRC) di lapangan, titik panas terdeteksi secara fluktuatif. Sebagian besar lokasi kebakaran ditemukan bersinggungan langsung dengan kawasan produktif dan lahan kelola masyarakat.

“Kalau melihat kondisi di lapangan, penyebab kebakaran kemungkinan besar dipicu aktivitas pembukaan lahan. Sebab, lokasi kebakaran hampir selalu berdampingan dengan kebun milik warga,” ungkap Fathul menerangkan.

Menghadapi potensi meluasnya kebakaran, BPBD KKU meningkatkan patroli darat dan udara. Operasi pemadaman juga dilakukan melalui jalur darat serta pengeboman air atau water bombing di lokasi yang sulit dijangkau.

“Saat ini kami terus melakukan patroli darat dan patroli udara sebagai upaya pencegahan. Bahkan, dalam empat hari terakhir telah dilaksanakan operasi pemadaman melalui jalur darat serta water bombing (WB),” jelasnya secara detail.

Penanganan karhutla melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD Provinsi Kalbar, BPBD KKU, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta kelompok masyarakat peduli api.

“Penanganan ini melibatkan BNPB, BPBD Provinsi Kalimantan Barat, BPBD Kabupaten Kayong Utara, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Polri, TNI, serta kelompok masyarakat peduli api agar kebakaran tidak semakin meluas,” pungkasnya.

BPBD KKU mengandalkan patroli terpadu, pemantauan titik panas, pemadaman cepat, dan keterlibatan masyarakat untuk mencegah kebakaran meluas selama musim kemarau. Warga juga diharapkan tidak menggunakan api saat membuka atau membersihkan lahan karena berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com