Kelompok Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional Abha di Arab Saudi sebagai balasan atas dugaan serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa yang dinilai mengakhiri masa de-escalation.
SANAA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim meluncurkan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi. Aksi tersebut disebut sebagai respons atas dugaan serangan Saudi terhadap landasan pacu Bandara Internasional Sanaa sehari sebelumnya.
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan sasaran operasi adalah Bandara Internasional Abha yang berada di wilayah selatan Arab Saudi dan berbatasan langsung dengan Yaman. “Menanggapi agresi kriminal Saudi ini, Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Internasional Abha, menggunakan sejumlah rudal balistik dan kendaraan udara tak berawak,” kata Yahya Saree, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (14/07/2026).
Menurut Houthi, serangan tersebut menandai berakhirnya periode de-escalation yang berlangsung sejak gencatan senjata informal diberlakukan pada Maret 2022. Kelompok itu juga memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak mengoperasikan penerbangan menuju wilayah udara Arab Saudi hingga pembatasan terhadap Bandara Internasional Sanaa dicabut.
Di sisi lain, Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi membenarkan adanya serangan terhadap landasan pacu Bandara Internasional Sanaa. Kementerian Pertahanan Yaman menyebut tindakan itu dilakukan untuk mencegah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi kembali dari pemakaman Ayatollah Ali Khamenei mendarat, karena dinilai berpotensi melanggar kedaulatan negara.
Houthi menuduh Arab Saudi menyerang pesawat Iran yang sempat mendarat di Sanaa dan kemudian lepas landas membawa delegasi mereka. Kelompok tersebut juga mengancam akan memperluas serangan ke bandara-bandara maupun aset strategis Arab Saudi apabila Riyadh kembali melanggar wilayah udara Yaman atau melancarkan serangan lanjutan.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas klaim serangan tersebut. Sementara itu, meningkatnya eskalasi memunculkan kekhawatiran akan kembali pecahnya konflik bersenjata di perbatasan selatan Saudi setelah beberapa tahun mengalami penurunan intensitas.
Konflik Yaman bermula pada 2015 ketika koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer setelah Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan menggulingkan pemerintahan yang diakui secara internasional. Perang berkepanjangan itu telah memicu krisis kemanusiaan, pengungsian massal, serta kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah Yaman. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan