Inovasi AI dan Photobooth Bikin SMAN 7 Banjarmasin Tak Tertandingi

Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence dan fitur interaktif menjadi pembeda yang mengantarkan SMAN 7 Banjarmasin mempertahankan gelar juara Lomba Mading 3D Museum Wasaka.

BANJARMASIN – Inovasi pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu faktor yang mengantarkan SMAN 7 Banjarmasin mempertahankan gelar juara pertama pada Lomba Majalah Dinding (Mading) Tiga Dimensi (3D) yang diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka), Banjarmasin.

Keberhasilan tersebut sekaligus menandai prestasi beruntun sekolah itu setelah meraih gelar yang sama pada penyelenggaraan lomba tahun 2025 dan kembali mempertahankannya pada 2026.

Perwakilan SMAN 7 Banjarmasin, Diva Aprilia, mengungkapkan timnya telah mengikuti kompetisi tersebut sejak 2021. Namun, formasi tim yang sama baru terbentuk pada 2025 dan langsung mencatatkan dua kemenangan berturut-turut.

“Sudah dari 2021 kami ikut, tetapi dengan orang yang sama baru pada 2025. Jadi, juara satu pada 2025 dan 2026, alhamdulillah juara lagi,” ujar Diva sebagaimana diberitakan MC Kalsel, Kamis, (24/7/2026).

Keberhasilan mempertahankan gelar tidak diraih dengan mudah. Tim harus meningkatkan kualitas karya yang ditampilkan, termasuk menghadirkan berbagai pembaruan pada aspek teknologi dan interaktivitas.

Perancang mesin Mading 3D SMAN 7 Banjarmasin, Ahmad Gozi Islami, mengatakan karya tahun ini memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan edisi sebelumnya. Salah satu pembaruan utama ialah integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan sistem.

“Kalau dari segi mesin, sekarang kompleksitasnya jauh lebih tinggi karena tahun ini kami mengintegrasikan AI. Pengunjung bisa bertanya kepada AI. Selain itu, kami juga menghadirkan permainan dengan kabut dan photobooth,” jelasnya.

Gozi menjelaskan, pengalaman pada kompetisi tahun sebelumnya menjadi bahan evaluasi bagi tim. Sejumlah perangkat sempat mengalami kerusakan akibat banjir sehingga pada penyelenggaraan tahun ini mereka melakukan berbagai penyempurnaan agar hasil yang ditampilkan lebih optimal.

“Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, pada lomba kali ini kami berusaha menampilkan hasil yang lebih maksimal,” pungkasnya.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital dapat dipadukan dengan media pembelajaran kreatif untuk meningkatkan kualitas penyampaian informasi sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi muda. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com