BPBD HSU tetap memantau lahan gambut di Desa Mawar Sari dan Pinangkara setelah kebakaran sekitar lima hektare ditangani hingga dini hari untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
HULU SUNGAI UTARA – Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas sekitar lima hektare di Desa Mawar Sari dan Desa Pinangkara, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), belum mengakhiri kewaspadaan petugas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSU masih melakukan pemantauan karena karakter lahan gambut berpotensi memunculkan kembali titik api meski pemadaman dari darat telah dilakukan.
Kebakaran yang terjadi Rabu (12/08/2026) itu berada di kawasan rawa gambut yang ditumbuhi semak belukar dan pakis. Sebagian lahan masih dalam kondisi basah sehingga membantu menghambat perambatan api, tetapi petugas tetap mewaspadai kemungkinan bara tersimpan di lapisan gambut.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD HSU Syamrani mengatakan pemantauan tetap diperlukan setelah proses pemadaman selesai.
“Setelah dilakukan pemadaman dari darat, api dapat dipastikan padam. Namun, karena ini lahan gambut, kami tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api,” jelas Syamrani.
Informasi awal mengenai kebakaran diterima dari laporan masyarakat dan hasil pemantauan melalui aplikasi SiPongi. Tim Reaksi Cepat (TRC) Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD HSU kemudian bergerak menuju lokasi bersama unsur terkait.
“Tim langsung bergerak ke lokasi setelah menerima informasi. Pemadaman dilakukan dengan menggunakan mesin pompa dan peralatan manual secara bersama-sama,” katanya, sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin, Kamis, (13/08/2026).
Tim berangkat sekitar pukul 14.16 Waktu Indonesia Tengah (Wita) dan tiba di lokasi sekitar satu jam kemudian. Setelah mengamati kondisi medan, pemadaman dimulai pada pukul 15.30 Wita dan berlangsung hingga sekitar pukul 01.30 Wita, Kamis (13/08/2026). Dari sekitar lima hektare lahan yang terbakar, sekitar 3,6 hektare tercatat berhasil dipadamkan dalam penanganan tersebut.
Operasi melibatkan TRC Pusdalops BPBD HSU bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), perangkat desa, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, dan masyarakat. BPBD HSU mengerahkan dua unit mesin pompa, 10 selang, serta peralatan komunikasi untuk mendukung pemadaman.
Selain mengantisipasi munculnya kembali titik api, BPBD HSU meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu karhutla. Kondisi cuaca yang relatif kering dinilai meningkatkan risiko kebakaran, terutama pada kawasan gambut.
“Kami mengimbau masyarakat jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kalau melihat adanya asap atau titik api, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani sedini mungkin,” tegasnya.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan ketika beraktivitas di kawasan rawan. Pencegahan dinilai penting karena dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan dan aktivitas masyarakat.
“Karhutla bukan hanya merusak lingkungan, tetapi asapnya juga dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Karena itu, pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Pemantauan pascapemadaman menjadi langkah penting di kawasan tersebut untuk memastikan titik api tidak kembali muncul dari lahan gambut. Keterlibatan masyarakat melalui pelaporan dini juga diharapkan mempercepat penanganan apabila asap maupun api kembali terdeteksi sehingga kebakaran tidak berkembang lebih luas. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan