Program pembelian kembali senjata api di New South Wales dimulai 2 November dengan kompensasi hingga A$1.000 per senjata sebagai bagian dari reformasi setelah serangan di Pantai Bondi.
SYDNEY – Pemerintah New South Wales, Australia, akan memulai program pembelian kembali senjata api pada 2 November 2026 sebagai bagian dari pengetatan kebijakan kepemilikan senjata setelah penembakan di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan 15 orang. Pemilik yang menyerahkan senjata api dalam program tersebut akan memperoleh kompensasi hingga A$1.000 atau sekitar Rp12,6 juta per senjata.
Program tersebut menjadi skema pembelian kembali senjata api terbesar di Australia sejak kebijakan serupa diberlakukan setelah pembantaian Port Arthur, Tasmania, pada 1996 yang menewaskan 35 orang.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Perdana Menteri New South Wales Chris Minns menyatakan program itu akan dimulai pada 2 November. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari rangkaian langkah nasional yang mencakup pengetatan pemeriksaan izin kepemilikan senjata api serta penindakan terhadap kebencian.
Sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (16/08/2026), kebijakan tersebut mulai diarahkan setelah serangan bersenjata pada 14 Desember dalam perayaan Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney. Pemerintah Australia kemudian memperkuat regulasi senjata api melalui undang-undang yang diberlakukan Albanese pada Januari 2026.
“Warga Australia memang patut bangga dengan undang-undang senjata api kita, tetapi faktanya ada lebih banyak senjata api di Australia saat ini daripada pada saat program buyback senjata api Port Arthur,” kata Albanese dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Minggu (16/08/2026).
Pemerintah Australia menyebut jumlah senjata api di negara itu mencapai sekitar 4,1 juta unit pada 2025. Dari jumlah tersebut, lebih dari 1,1 juta senjata api berada di New South Wales, negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar di Australia.
Kebijakan baru tersebut juga membatasi kepemilikan senjata api oleh individu di New South Wales hingga empat buah. Pembatasan itu merupakan bagian dari reformasi yang dilakukan setelah serangan di Pantai Bondi.
Menurut keterangan kepolisian yang tercantum dalam laporan tersebut, serangan di Pantai Bondi diduga dilakukan oleh seorang ayah dan anak yang diyakini terinspirasi kelompok militan ISIS. Salah satu tersangka yang selamat, Naveed Akram, 24 tahun, belum memberikan pernyataan terkait sejumlah tuduhan yang dikenakan kepadanya, termasuk 15 tuduhan pembunuhan.
Pemerintah Australia berharap program pembelian kembali tersebut dapat mengurangi jumlah senjata api yang beredar di masyarakat sekaligus memperkuat pengawasan terhadap kepemilikan senjata. Langkah itu juga menandai perluasan kembali kebijakan pengendalian senjata api Australia setelah hampir tiga dekade program besar serupa diterapkan pascatragedi Port Arthur. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan