ilustrasi

Karhutla Kotim Nyaris 500 Hektare, 2.707 Titik Panas Terdeteksi

BPBD Kotim mencatat 496,8439 hektare lahan terbakar dalam 302 kejadian dan 2.707 titik panas hingga 14 Agustus 2026, sementara potensi pertumbuhan awan hujan masih rendah.

KOTAWARINGIN TIMUR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), masih tinggi di tengah minimnya potensi pertumbuhan awan hujan. Hingga 14 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat 496,8439 hektare lahan terbakar dalam 302 kejadian, sementara 2.707 titik panas (hotspot) terpantau di wilayah tersebut.

Kondisi itu membuat pengawasan tidak hanya difokuskan pada lokasi yang telah terbakar, tetapi juga wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi. Kemarau dan kondisi lahan yang mengering meningkatkan risiko munculnya titik api baru maupun meluasnya kebakaran yang sudah terjadi.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim Multazam menyebut lima kecamatan mendapat perhatian khusus dalam penanganan kebakaran berskala besar, yakni Teluk Sampit, Kota Besi, Seranau, Baamang, dan Mentawa Baru Ketapang.

“Ada lima kecamatan yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla berskala besar, yaitu Teluk Sampit, Kota Besi, Seranau, Baamang dan Mentawa Baru Ketapang,” kata Multazam, sebagaimana dilansir Klik Sampit, Minggu, (16/08/2026).

Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kotim, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mencatat luas lahan terbakar terbesar, yakni 136,3595 hektare dari 111 kejadian. Baamang berada di posisi berikutnya dengan 107,61135 hektare dari 131 kejadian.

Luas kebakaran yang cukup besar juga tercatat di Pulau Hanaut, yakni 82,65 hektare dari empat kejadian, disusul Parenggean 58,5 hektare dari lima kejadian, Kota Besi 33,615 hektare dari 14 kejadian, serta Mentaya Hilir Selatan 30 hektare dari enam kejadian.

Karhutla juga terjadi di Mentaya Hilir Utara dengan luas 13,808 hektare, Teluk Sampit 13,3 hektare, Telawang 13,05 hektare, Seranau 3,5 hektare, Cempaga Hulu 2 hektare, Mentaya Hulu 1,45 hektare, dan Cempaga 1 hektare.

Selain luas kebakaran, tingginya jumlah titik panas menjadi indikator lain yang harus diwaspadai. Dari 2.707 titik panas yang terpantau hingga 14 Agustus 2026, Kota Besi mencatat jumlah terbanyak dengan 512 titik.

Teluk Sampit berada di urutan berikutnya dengan 451 titik panas, disusul Seranau 296 titik, Mentaya Hilir Utara 289 titik, Mentawa Baru Ketapang 262 titik, dan Baamang 230 titik.

Meski demikian, keberadaan titik panas tidak serta-merta menunjukkan terjadinya kebakaran. Data tersebut digunakan sebagai indikator awal yang masih memerlukan pemantauan dan verifikasi langsung oleh petugas di lapangan.

Risiko karhutla juga diperkuat kondisi cuaca. Berdasarkan informasi Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, potensi pertumbuhan awan hujan pada periode Minggu (16/08/2026) pukul 07.00 WIB hingga Senin (17/08/2026) pukul 07.00 WIB secara umum diprakirakan rendah atau tidak signifikan berdasarkan model prediksi cuaca numerik.

Meskipun peluang pertumbuhan awan hujan rendah, hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi cuaca pada periode tersebut secara umum diprakirakan berawan.

BPBD Kotim pun terus memantau daerah rawan untuk mengantisipasi kemunculan titik api baru sekaligus mencegah kebakaran yang telah terjadi meluas ke kawasan lainnya.

“Penanganan terus menjadi perhatian, khususnya pada wilayah dengan kebakaran berskala besar, sehingga perkembangan di lapangan terus dipantau,” ujarnya.

Data kejadian maupun luas lahan terbakar akan terus diperbarui BPBD Kotim berdasarkan hasil pemantauan dan verifikasi lapangan. Dengan luas kebakaran yang telah mendekati 500 hektare serta ribuan titik panas di tengah rendahnya potensi hujan, kewaspadaan dan penanganan cepat menjadi krusial untuk mencegah dampak karhutla semakin luas. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com