Presiden Abelardo de la Espriella meminta Donald Trump menangguhkan sementara tarif impor AS untuk membantu dunia usaha Kolombia menghadapi dampak gempa M7,4.
JAKARTA – Dampak ekonomi gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,4 mendorong Presiden baru Kolombia Abelardo de la Espriella meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menangguhkan sementara kenaikan tarif impor terhadap produk Kolombia. Permintaan itu disampaikan saat kedua pemimpin berbicara melalui sambungan telepon selama sekitar 10 menit.
De la Espriella mengatakan kebijakan penangguhan tarif diperlukan untuk membantu pelaku usaha Kolombia yang tengah menghadapi tekanan akibat bencana. Ia menyampaikan permintaan tersebut setelah gempa menyebabkan kerusakan besar di wilayah barat Kolombia.
“Saya memintanya untuk mempertimbangkan penangguhan sementara tarif tinggi yang berdampak pada produk-produk Kolombia, guna memberikan bantuan bagi para pelaku usaha kami yang sedang menghadapi masa-masa sangat sulit akibat dampak gempa bumi,” kata De la Espriella sebagaimana dilansir AFP, Minggu (16/08/2026).
Pembicaraan dengan Trump berlangsung ketika tarif AS terhadap sejumlah produk Kolombia telah meningkat. Tarif tersebut naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen pada akhir Juli 2026 dan mulai berlaku pada 24 Juli, setelah ketentuan bea masuk global sebelumnya berakhir.
Sejumlah komoditas mendapat pengecualian dari kenaikan tersebut, termasuk kopi dan minyak. Namun, pemerintah Kolombia tetap menghadapi tekanan ekonomi ketika harus melakukan pemulihan pascagempa.
De la Espriella menyebut komunikasi dengan Trump berlangsung dalam suasana positif. Menurut dia, pembicaraan tersebut membahas tantangan yang dihadapi pemerintah baru Kolombia dalam membangun kembali wilayah terdampak.
“Percakapan berlangsung sangat hangat dan ramah,” kata dia.
“Saya menyampaikan kepadanya bahwa kami memiliki tantangan besar di depan: membangun kembali Kolombia di tengah situasi ekonomi yang sangat sulit dan mengkhawatirkan yang saya warisi,” imbuhnya.
Gempa M7,4 sebelumnya menghantam wilayah barat Kolombia dan menyebabkan kerusakan parah di Cali serta Pereira. Bencana tersebut dilaporkan menewaskan hampir 300 orang dan merusak hampir 13.000 rumah.
Kondisi itu membuat pemerintah Kolombia harus menghadapi kebutuhan pemulihan dalam skala besar di tengah tekanan ekonomi yang sudah ada. Karena itu, penangguhan tarif impor AS dinilai dapat memberikan ruang tambahan bagi dunia usaha Kolombia selama proses pemulihan berlangsung.
Permintaan kepada Washington tersebut kini menjadi salah satu upaya diplomatik pemerintahan baru De la Espriella untuk mengurangi tekanan terhadap perekonomian Kolombia sekaligus mendukung proses rekonstruksi setelah bencana. []
Penulis: Alfian
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan