Kasus ISPA di Nunukan kembali meningkat dari sekitar 330 menjadi 380 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-34, sementara masyarakat diminta mengurangi paparan kabut asap dan menjaga kondisi kesehatan.
NUNUKAN – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Nunukan kembali meningkat menjadi sekitar 380 kasus pada Minggu Epidemiologi ke-34 setelah sempat turun dalam dua pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Nunukan di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Utara (Kaltara).
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes P2KB Nunukan, kasus ISPA pada Minggu Epidemiologi ke-31 tercatat sekitar 420 kasus. Jumlah tersebut turun menjadi sekitar 350 kasus pada minggu ke-32 dan kembali menurun menjadi sekitar 330 kasus pada minggu ke-33.
Namun, tren penurunan itu tidak berlanjut. Pada Minggu Epidemiologi ke-34, jumlah kasus kembali naik sekitar 50 kasus menjadi 380 kasus.
Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Nunukan Miskia mengatakan perubahan jumlah kasus tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama ketika kabut asap terjadi di sejumlah wilayah Kaltara, sebagaimana diberitakan Simp4tik, Rabu, (02/09/2026).
“Kasus ISPA selama Agustus menunjukkan pola yang fluktuatif. Setelah mengalami penurunan, pada minggu ke-34 kembali terjadi peningkatan dan ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Miskia, Rabu (02/09/2026).
Meski terjadi bersamaan dengan kabut asap, Dinkes P2KB Nunukan belum menyimpulkan kenaikan kasus ISPA tersebut secara langsung disebabkan paparan asap. ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kondisi cuaca dan lingkungan, daya tahan tubuh, serta paparan polusi udara.
Pada Rabu (02/09/2026) pukul 11.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan mencatat jarak pandang sekitar 4,5 kilometer. Kualitas udara di wilayah Nunukan saat itu berada dalam kategori sedang.
Meski demikian, Dinkes P2KB Nunukan mengingatkan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan karena kabut asap dapat menimbulkan gangguan pada mata, hidung, dan tenggorokan serta memicu batuk, pilek hingga sesak napas.
Paparan asap juga berisiko memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki riwayat asma, bronkitis, dan penyakit paru lainnya. Kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, anak-anak, dan lanjut usia juga diminta lebih berhati-hati.
“Kabut asap dapat mengganggu kesehatan kita semua. Lindungi diri, keluarga dan lingkungan demi Nunukan yang sehat,” demikian pesan yang disampaikan Dinkes P2KB Kabupaten Nunukan kepada masyarakat.
Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah dan membatasi kegiatan di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Warga juga dianjurkan menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah.
Selain mengurangi paparan asap, masyarakat diminta menjaga daya tahan tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, serta beristirahat cukup.
Warga yang mengalami gangguan pernapasan, batuk berkepanjangan, atau sesak napas diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Dinkes P2KB Nunukan juga mengingatkan bahwa perlindungan kesehatan perlu dibarengi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi salah satu sumber kabut asap.
“Asap tidak hanya mengganggu, tetapi juga membahayakan. Cegah kebakaran hutan dan lahan, jangan membuka lahan dengan cara membakar,” demikian imbauan tersebut.
Dengan kasus ISPA yang kembali meningkat pada pekan terakhir Agustus, pemantauan kualitas udara dan perkembangan kasus dinilai penting untuk menentukan langkah penanganan berikutnya, terutama apabila kondisi kabut asap memburuk atau jumlah penderita kembali bertambah. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan