5.000 Bibit Kerapu Disalurkan, Nelayan Kayong Utara Butuh Pendampingan

DKP Kalbar dan KIPP mendorong budidaya 5.000 bibit ikan kerapu di Desa Pelapis, Kayong Utara, berkembang menjadi usaha produktif melalui pendampingan teknis dan penguatan akses pasar.

KAYONG UTARA – Budidaya ikan kerapu di Desa Pelapis, Kabupaten Kayong Utara (Kayong Utara), diarahkan tidak berhenti pada penyaluran bantuan bibit, tetapi berkembang menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan pendapatan kelompok nelayan. Penguatan kapasitas dan pendampingan teknis menjadi bagian penting agar budidaya dapat bertahan hingga masa panen.

Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) bersama Pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) dengan menebar 5.000 bibit ikan kerapu ke keramba jaring apung (KJA) milik Kelompok Nelayan Bina Warga di Desa Pelapis. Program itu ditujukan untuk mendorong pengembangan usaha budidaya kerapu sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

Kepala Bidang Budidaya Perikanan DKP Kalbar Bustami mengatakan bantuan tersebut dirancang agar kelompok nelayan mampu mengelola ikan hingga masa panen yang diperkirakan berlangsung selama 9-12 bulan.

“Kami memberikan bantuan bibit ikan kerapu untuk kelompok nelayan di Desa Pelapis. Tentunya, kami berharap dengan bantuan ini kelompok dapat membudidayakan ikan kerapu ini hingga selesai panen atau 9-12 bulan. Dengan budidaya ini, kelompok nelayan dapat menjualnya untuk peningkatan ekonomi kelompok tersebut,” ujar Bustami di Pontianak, Selasa (15/09/2026), sebagaimana dilansir Pontianak Post, Selasa, (15/09/2026).

Bustami menuturkan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya bibit, tetapi juga kemampuan kelompok dalam melakukan pemeliharaan hingga ikan siap dipanen. Karena itu, KIPP bersama DKP Kalbar menyiapkan pendampingan untuk membantu nelayan memahami teknik budidaya kerapu.

“Bantuan bibit kerapu diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok penerima,” jelasnya.

Pendampingan tersebut mencakup pemeliharaan ikan agar pertumbuhannya dapat berlangsung optimal. Sinergi antara DKP Kalbar dan KIPP juga diharapkan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan teknis nelayan yang selama ini lebih banyak mengandalkan pengalaman menangkap ikan di laut.

“Selanjutnya, KIPP bekerja sama dengan DKP untuk memberikan pendampingan untuk kelompok nelayan tentang pemeliharaan budidaya ikan kerapu, sehingga nanti ikan kerapu tersebut dapat berkembang dengan maksimal,” tutur Bustami.

External Relation Manager KIPP Sugeng Sulistiyo mengatakan keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Menurut Sugeng, keberlanjutan pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses yang lebih panjang daripada sekadar pemberian bantuan. Pendampingan secara konsisten, peningkatan kapasitas kelompok, serta akses terhadap pasar diperlukan agar hasil budidaya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

“Ke depan, kolaborasi serupa diharapkan dapat terus dikembangkan melalui pendampingan, peningkatan kapasitas kelompok, serta penguatan akses pasar sehingga budidaya kerapu tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi dapat tumbuh menjadi usaha masyarakat yang produktif dan berkelanjutan,” kata dia.

Ketua Kelompok Nelayan Bina Warga Kusmanto menyambut bantuan tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan sumber pendapatan baru bagi anggotanya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada DKP Kalbar, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kayong Utara, serta KIPP atas dukungan yang diberikan.

Kusmanto berharap keberhasilan kelompoknya dalam mengembangkan budidaya kerapu dapat mendorong munculnya kelompok nelayan lain yang tertarik mengembangkan usaha serupa di Desa Pelapis.

“Harapan saya, semoga kelompok kami bisa berkembang dan bisa menjadi pemicu lahirnya kelompok-kelompok yang akan datang. Kalau ini bisa dikembangkan secara maksimal, tidak menutup kemungkinan kelompok-kelompok yang akan datang bisa lebih berminat lagi,” ungkapnya.

Namun, pengembangan budidaya tersebut masih membutuhkan penguatan kapasitas teknis. Kusmanto menyebut pengalaman sebagai nelayan belum sepenuhnya mencukupi untuk mengelola budidaya kerapu secara optimal sehingga pendampingan tetap diperlukan.

“Secara umum memang kami sebagai nelayan memahami kondisi laut. Tapi untuk budidaya kerapu kami masih perlu pendampingan,” katanya.

Dengan dukungan bibit, pendampingan teknis, dan penguatan akses pasar, budidaya kerapu diharapkan dapat berkembang dari program pemberdayaan menjadi kegiatan usaha yang mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi kelompok nelayan di Desa Pelapis. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com