Pejabat AS Tinggalkan Sidang Saat Presiden Iran Bicara

Pidato Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Sidang Majelis Umum PBB diwarnai aksi pejabat AS meninggalkan ruang sidang saat Iran menyampaikan tudingan terkait konflik kedua negara.

NEW YORK – Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali terlihat di ruang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah satu-satunya pejabat Amerika Serikat (AS) yang berada di kursi delegasi meninggalkan ruangan ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian mulai menyampaikan pidato, Rabu (23/09/2026).

Pejabat AS tersebut berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas, kemudian meninggalkan ruang sidang ketika Pezeshkian memulai pidato. Kursi delegasi AS selanjutnya terlihat kosong sepanjang pidato Presiden Iran.

Pezeshkian tetap melanjutkan penyampaiannya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengemukakan tudingan Iran mengenai serangan yang dilakukan AS dan Israel. Ia menyebut rakyat Iran menjadi korban serangan serta menyoroti kematian sejumlah pejabat dan warga sipil.

“Saya berasal dari Iran di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun,” kata Pezeshkian, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis, (24/09/2026).

Dalam pidatonya, Pezeshkian memperlihatkan foto mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia juga menyebut anggota keluarga Khamenei serta sejumlah pejabat pertahanan dan pakar nuklir Iran sebagai korban serangan yang menurutnya dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari.

Pezeshkian kemudian membawa isu korban sipil, termasuk anak-anak yang disebutnya tewas dalam serangan terhadap sekolah.

“Saya dari Iran, di mana mereka sebenarnya membom sekolah,” ungkap dia.

Pernyataan tersebut disampaikan sambil menunjukkan foto anak-anak sekolah yang disebut menjadi korban serangan. Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menggambarkan konflik antara Iran, AS, dan Israel sebagai rangkaian kekerasan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Konflik tersebut turut dikaitkan dengan ketegangan di Selat Hormuz yang berdampak pada pasar energi dunia. Iran juga disebut melakukan serangan balasan terhadap sejumlah aset dan pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah.

Sebelumnya, AS dan Iran disebut sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata serta menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri perang. Namun, pihak Iran mengeklaim Washington berulang kali melanggar kesepakatan tersebut.

Dalam pidato yang sama, Pezeshkian tetap membuka ruang bagi diplomasi. Reuters melaporkan ia menyatakan Iran tidak akan menyerah dalam menghadapi perang dengan AS, tetapi tetap terbuka terhadap jalur diplomatik untuk mengakhiri konflik.

Peristiwa keluarnya pejabat AS dari ruang sidang menambah gambaran ketegangan politik yang mewarnai pertemuan tingkat tinggi PBB. Sidang Majelis Umum PBB sendiri berlangsung pada 22-28 September 2026 di Markas Besar PBB, New York. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *