Zelensky Tuduh Rusia Libatkan Warga 47 Negara dalam Perang

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan potensi eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi Rusia saat musim dingin sembari menyoroti penggunaan warga asing dalam perang.

NEW YORK – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa perang Rusia-Ukraina berpotensi kembali meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi menjelang musim dingin, sembari menuduh Rusia menggunakan warga dari 47 negara dalam konflik tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Zelensky dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/09/2026). Ia mengatakan Ukraina memahami ancaman terhadap fasilitas pemanas dan energi ketika suhu ekstrem mulai melanda, tetapi menyatakan negaranya akan merespons serangan Rusia terhadap infrastruktur serupa.

“Rakyat Ukraina memahami bahwa musim dingin ini bisa jadi sangat berat bagi kami. Namun sebagai tanggapannya, kami tidak punya pilihan selain membuatnya terasa menyakitkan bagi Rusia juga,” ujar Zelensky, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis, (24/09/2026).

Zelensky mengatakan sasaran Ukraina bukan sekadar menghancurkan pasokan bahan bakar Rusia. Menurut dia, serangan terhadap sektor energi diarahkan untuk mengurangi pendapatan yang digunakan Moskow dalam membiayai perang.

“Ketika pihak lain memberi lebih banyak uang ke Rusia lewat perdagangan, mereka memberikan lebih banyak waktu bagi perang ini. Itulah sebabnya kami bersikeras membatasi perdagangan dengan pihak agresor, dan mengapa kami sendiri yang melenyapkan pendapatan Rusia,” kata dia.

Ia menilai pembatasan terhadap sumber pendapatan Rusia merupakan bagian dari upaya menekan kemampuan negara tersebut untuk melanjutkan perang.

“Semakin lama Putin mampu mengobarkan perang, semakin banyak pula kejahatan yang akan ia tinggalkan di dunia ini,” imbuh Zelensky.

Di hadapan para pemimpin negara anggota PBB, Zelensky juga menyoroti keterlibatan warga negara asing dalam perang. Ia menyebut Rusia menggunakan warga dari 47 negara, termasuk Ghana, Nepal, dan India, untuk mendukung operasi militernya di Ukraina. Klaim tersebut merupakan pernyataan Zelensky dalam forum internasional dan tidak secara independen diverifikasi dalam materi sumber.

“Putin selalu mencari pihak yang membantunya membunuh lebih banyak orang demi setiap kilometer wilayah, merebut lebih banyak wilayah, dan mencaplok negara lain alih-alih sekadar berhenti dan mengurus negaranya sendiri,” kata Zelensky.

“Kami tahu bahwa Rusia menggunakan warga dari 74 negara dalam perangnya seperti Ghana, Nepal, dan India yang terjebak dalam konflik tersebut,” imbuhnya, seperti dikutip AFP.

Dalam perkembangan diplomatik pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Washington mendorong Rusia dan Ukraina menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing. Laporan Reuters menyebut kedua pihak telah menyatakan ketertarikan terhadap gencatan senjata terbatas yang mencakup sasaran energi dan pangan, meski belum ada kesepakatan yang lebih luas.

Zelensky juga menyampaikan bahwa Ukraina bersedia membahas penghentian serangan di sektor tertentu. Sebelumnya, ia menyatakan Ukraina siap menerima gencatan senjata maritim di Laut Hitam berdasarkan sejumlah usulan yang melibatkan Mesir, India, dan Turki, dengan keputusan selanjutnya berada di tangan Rusia.

Pidato tersebut memperlihatkan dua jalur yang berjalan bersamaan, yakni tekanan ekonomi terhadap Rusia dan upaya diplomatik untuk membatasi serangan terhadap infrastruktur strategis. Sidang Majelis Umum PBB berlangsung pada 22-28 September 2026 sebagai bagian dari pekan tingkat tinggi sesi ke-81 PBB. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *