Kelompok Tani Karya Baru mengolah Cabai Hiyung menjadi cabai kering dan berbagai produk turunan untuk memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.
TAPIN – Pengolahan pascapanen menjadi strategi Kelompok Tani Karya Baru untuk menjaga nilai ekonomi Cabai Hiyung ketika komoditas tersebut menghadapi persoalan daya simpan dan fluktuasi harga. Cabai segar yang hanya mampu bertahan sekitar 10-15 hari diolah menjadi cabai kering yang dapat disimpan hingga tiga tahun, sekaligus dikembangkan menjadi sejumlah produk bernilai tambah.
Strategi tersebut diterapkan di sentra budidaya Cabai Hiyung, Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin (Tapin), Kalimantan Selatan (Kalsel). Selain dikeringkan, hasil pertanian itu dikembangkan menjadi produk olahan seperti sambal, abon cabai, sambal cumi, dan sambal mandai.
Ketua Kelompok Tani Karya Baru Junaidi mengatakan pengolahan cabai dilakukan sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan produk sekaligus meringankan beban konsumen ketika harga cabai segar meningkat.
“Cabai segar saat ini harganya sekitar Rp120.000 per kilogram. Untuk meringankan beban konsumen, kami dari Kelompok Tani Karya Baru bersama petani mengolah cabai segar menjadi cabai kering,” jelas Junaidi, Minggu (27/09/2026).
Menurut Junaidi, proses pengeringan mengurangi bobot cabai secara signifikan. Dari sekitar 10 kilogram cabai segar, setelah melalui proses pengeringan diperoleh sekitar tiga kilogram cabai kering.
Cabai kering tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk olahan. Langkah itu membuat hasil panen tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan dalam bentuk segar sekaligus membuka peluang pengembangan usaha bagi kelompok wanita tani.
“Produk-produk ini juga untuk meningkatkan pendapatan kelompok wanita tani yang ada di Kelompok Tani Karya Baru,” katanya.
Junaidi menjelaskan pengolahan pascapanen menjadi penting karena Cabai Hiyung memiliki masa simpan yang jauh berbeda antara produk segar dan produk kering. Cabai segar relatif cepat mengalami kerusakan sehingga pengolahan menjadi salah satu pilihan untuk mempertahankan pemanfaatannya.
“Kalau cabai segar daya tahannya sekitar 10 sampai 15 hari sebelum busuk. Sedangkan kalau sudah dikeringkan, bisa bertahan sampai tiga tahun,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan Banjarmasinpost, Minggu (27/09/2026), potensi pengolahan tersebut diketahui dalam kunjungan mahasiswa Politeknik Islam Syekh Salman Al Farisi (SSA) Rantau ke kawasan budidaya Cabai Hiyung. Mahasiswa melihat langsung lahan pertanian sekaligus mengunjungi rumah produksi milik Kelompok Tani Karya Baru yang juga digunakan untuk pengolahan abon cabai.
Junaidi yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) pada Dinas Pertanian Tapin turut menjelaskan bahwa Cabai Hiyung memiliki karakteristik tersendiri. Cabai yang dibudidayakan di Desa Hiyung itu berwarna merah jingga ketika matang dan dikenal memiliki rasa pedas.
Dari sisi perlindungan produk, Cabai Hiyung telah memperoleh hak merek serta sertifikat indikasi geografis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).
“Merek Cabai Hiyung sudah mendapatkan hak merek. Cabai Hiyung juga sudah mendapatkan sertifikat indikasi geografis dari Kementerian Hukum dan HAM,” jelasnya.
Produk berbahan Cabai Hiyung juga telah dipasarkan ke luar Kalsel, termasuk kepada sejumlah perusahaan di Jakarta, Jawa Barat, dan Denpasar, Bali. Perluasan pemasaran tersebut menjadi peluang bagi petani dan kelompok wanita tani untuk mengembangkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Junaidi berharap pengembangan produk olahan terus dilakukan agar manfaat ekonomi Cabai Hiyung semakin luas. Ia juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk pengembangan pemasaran maupun diversifikasi produk.
“Kalau ada masalah harga maupun kualitas, kami siap menunjukkan komitmen dan memberikan informasi yang diperlukan,” pungkasnya. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan