Dari Tari hingga Teater, Seni Tradisi HSU Tampil di Nagara Dipa

Pentas “Tujuh Sumbu Budaya di Nagara Dipa” menjadi ruang regenerasi seni tradisi sekaligus mengenalkan sejarah dan identitas budaya HSU kepada generasi muda.

HULU SUNGAI UTARA – Keberlangsungan budaya daerah di tengah perubahan zaman didorong melalui keterlibatan generasi muda dalam mengenal dan menghidupkan kembali kesenian tradisional. Upaya itu diwujudkan Sanggar Seni Tanaharum Bakarasmin melalui pentas “Tujuh Sumbu Budaya di Nagara Dipa” di Halaman Komando Distrik Militer (Kodim) 1001/HSU-BLG, Sabtu (26/09/2026).

Pentas tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan kesenian, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai, sejarah, dan identitas budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Kegiatan itu mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Utara (HSU) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) HSU, terutama Bidang Kebudayaan.

Ketua Umum (Ketum) Sanggar Seni Tanaharum Bakarasmin Faisal mengatakan keberadaan sanggar seni memiliki peran penting dalam memastikan seni tradisi tetap diwariskan dan berkembang di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal dan mencintai budaya daerah. Tujuh Sumbu Budaya di Nagara Dipa merupakan upaya menggali kembali nilai, sejarah, dan identitas budaya yang menjadi bagian perjalanan masyarakat Hulu Sungai Utara,” ujarnya.

Faisal menegaskan pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pelaku seni. Menurut dia, seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam menjaga agar kebudayaan daerah tetap hidup serta dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Keberadaan sanggar seni, lanjutnya, menjadi salah satu ruang penting bagi proses regenerasi tersebut. Melalui kegiatan seni, budaya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat terus dipraktikkan, dikenal, dan dikembangkan oleh masyarakat.

Hal senada disampaikan perwakilan Kesultanan Banjar Darma Setiawan. Ia memandang budaya sebagai bagian yang menghubungkan sejarah dengan kehidupan masyarakat dan generasi penerus.

“Budaya adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Apa yang ditampilkan malam ini bukan hanya pertunjukan, melainkan pengingat bahwa kita memiliki sejarah dan akar budaya yang sangat kuat,” ungkap Darma.

Ia menyatakan semangat mengenalkan budaya lokal sejalan dengan upaya menjaga jati diri masyarakat Banua di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, pengenalan budaya kepada generasi muda penting agar mereka memahami identitas, asal-usul, serta nilai yang diwariskan untuk kehidupan pada masa mendatang.

Sebagaimana diberitakan Media Center HSU, Sabtu (26/09/2026), pentas “Tujuh Sumbu Budaya di Nagara Dipa” menghadirkan beragam karya seni, mulai dari Tari Baksa Kembang, Puisi Campaka Abadi, Syair Banjar, Bapandung, Tari Kreasi Jukung, Teater Baturai Pantun, hingga pertunjukan Japin sebagai penutup.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) HSU Hero Setiawan, Wakil Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) HSU Mayang Melani, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) HSU, jajaran Disdikbud HSU, tokoh Nanang dan Galuh HSU, serta sejumlah tamu undangan lainnya. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperkuat upaya menjaga kesenian tradisional agar tetap memiliki ruang tumbuh dan dapat diwariskan kepada generasi muda. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *