RSJ Sambang Lihum menyiagakan 15 personel pemadam internal dengan sistem pemantauan sepanjang hari serta dukungan lintas instansi untuk menghadapi potensi kebakaran di sekitar kawasan rumah sakit.
BANJAR – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Kalimantan Selatan mengandalkan tim pemadam kebakaran internal beranggotakan 15 personel untuk memastikan keselamatan pasien dan lingkungan rumah sakit saat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam kawasan sekitar.
Direktur RSJ Sambang Lihum Yuddy Riswandhy Noora melalui Kepala Bidang (Kabid) Penunjang Nonmedik RSJ Sambang Lihum, Salbiah, mengatakan tim tersebut bukan dibentuk setelah munculnya ancaman karhutla, melainkan telah menjadi bagian dari sistem keselamatan rumah sakit dan dipersiapkan untuk menghadapi kondisi darurat.
“Kalau kami di Sambang Lihum ini, sebenarnya sebelum kejadian kebakaran pun kami sudah punya tim damkar. Tim damkar Sambang Lihum itu memang dipersyaratkan dalam penilaian akreditasi rumah sakit,” ujar Salbiah di Banjar, Selasa (29/09/2026), sebagaimana diberitakan MC Kalsel, Selasa, (29/09/2026).
Tim pemadam kebakaran tersebut terdiri atas personel dari Instalasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS), bidang kesehatan lingkungan, serta petugas keamanan. Mereka mendapatkan pelatihan secara berkala untuk meningkatkan kemampuan menghadapi kebakaran dan berbagai situasi yang berkaitan dengan keselamatan di lingkungan rumah sakit.
“Tim damkar kami terdiri dari 15 orang. Mereka terdiri dari instalasi K3RS, kesehatan lingkungan dan juga satpam. Mereka yang bertugas untuk memadamkan kalau memang terjadi kebakaran di lingkungan rumah sakit,” jelasnya.
Untuk memastikan kesiapan tidak hanya dilakukan pada jam tertentu, personel tim dibagi dalam waktu kerja pagi, siang, dan malam. Setiap perkembangan situasi di sekitar rumah sakit juga dipantau melalui grup komunikasi internal sehingga informasi dari lapangan dapat segera diteruskan kepada pihak terkait.
“Kami punya grup, jadi mereka melaporkan kondisi di sana. Tim damkar tadi bersiap, ada yang pagi, siang dan malam. Apapun kondisi nanti akan di-update di grup, jadi kami dapat memantau dan mengetahui kejadian-kejadian tersebut,” katanya.
Selain menyiagakan personel, RSJ Sambang Lihum menyiapkan peralatan pemadam yang dapat digunakan sesuai tingkat kedaruratan. Peralatan berukuran lebih kecil disiapkan untuk dibawa ke lokasi yang sulit dijangkau, sedangkan penanganan dengan skala lebih besar dilakukan melalui koordinasi dengan unsur eksternal.
Dalam kondisi yang membutuhkan dukungan tambahan, RSJ Sambang Lihum berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pola tersebut menjadi bagian dari sistem penanganan berjenjang agar ancaman kebakaran dapat direspons sebelum berdampak terhadap fasilitas maupun aktivitas rumah sakit.
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan