Tembus 8.000 Pengakses, Terpadu Digital Kutim Raih Respons Positif

Terpadu Digital Kutim mengintegrasikan 15 aplikasi dari 10 OPD sekaligus menyediakan pelatihan daring untuk memperluas pelayanan masyarakat dan menekan kebutuhan biaya Bimtek.

KUTAI TIMUR – Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengembangkan aplikasi Terpadu Digital Kutim untuk menekan biaya pelatihan sekaligus menyederhanakan akses masyarakat terhadap berbagai layanan pemerintah. Hingga kini, sebanyak 15 aplikasi dari 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah dihimpun dalam satu portal tersebut.

Terobosan itu dikembangkan di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah tanpa menghentikan transformasi digital. Salah satu fitur yang dimanfaatkan ialah sistem pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS) yang memungkinkan pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) serta pelatihan dilakukan secara daring.

Kepala Diskominfo Staper Kutim Ronny Bonar mengatakan, pemanfaatan sistem pembelajaran digital dapat mengurangi kebutuhan biaya pelatihan tanpa harus sepenuhnya menghilangkan Bimtek secara tatap muka.

“Dalam kondisi efisiensi ini kan bimtek-bimtek itu membutuhkan biaya. Nah, dengan adanya aplikasi tersebut ya sudah membantu mengurangi pembiayaan tersebut karena dia bisa secara online atau berlatih secara online,” ujar Ronny Bonar saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (29/09/2026).

Menurut Ronny, skema tersebut memungkinkan jangkauan pelatihan tetap diperluas ketika anggaran tidak mampu membiayai seluruh peserta secara langsung.

Ia mencontohkan, apabila suatu Bimtek ditargetkan diikuti 200 orang, sementara anggaran hanya mampu membiayai 75 peserta secara langsung, peserta lainnya tetap dapat mempelajari materi melalui modul yang tersedia dalam aplikasi.

Skema tersebut diharapkan dapat menjaga pemerataan akses pelatihan tanpa menambah beban anggaran secara signifikan.

Selain menjadi sarana pembelajaran, Terpadu Digital Kutim juga berfungsi sebagai portal integrasi layanan pemerintah. Aplikasi yang sebelumnya tersebar di berbagai OPD kini mulai dihimpun agar masyarakat tidak perlu mencari setiap layanan secara terpisah.

“Awalnya konsepnya adalah bagaimana selama ini kan punyanya Siap Kawal, punya Disdukcapil, masing-masing punya. Bingung kan yang mana. Tapi dengan terpadu, dia buka, cek, semuanya terkumpul jadi satu menyatukan,” kata Ronny.

Saat ini, sebanyak 15 aplikasi milik 10 OPD telah terintegrasi ke dalam Terpadu Digital Kutim. Portal tersebut juga menyediakan materi literasi digital, termasuk informasi mengenai penanganan hoaks dan perlindungan diri di ruang digital.

Antusiasme masyarakat terhadap layanan tersebut juga melampaui target awal. Diskominfo Staper Kutim sebelumnya menargetkan 5.000 pengakses dalam tiga bulan pertama, tetapi jumlah kunjungan telah mencapai sekitar 8.000 pengakses.

Jumlah tersebut masih memiliki ruang pertumbuhan jika dibandingkan dengan populasi Kutim. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) serta Badan Pusat Statistik (BPS) pada semester terakhir 2026, jumlah penduduk Kutim disebut mencapai 471.428 jiwa.

Diskominfo Staper Kutim selanjutnya membidik sekitar 25.000 pengguna untuk jangka menengah. Adapun dalam kurun satu hingga dua tahun mendatang, jumlah pengakses ditargetkan mencapai 50.000.

Ronny menilai transformasi digital tidak selalu harus diwujudkan dengan membangun sistem baru. Pemanfaatan dan pengintegrasian layanan yang sudah tersedia dinilai dapat menjadi strategi untuk memperluas manfaat teknologi dengan kebutuhan anggaran yang lebih efisien.

“Perubahan itu tidak harus baru dan tidak harus membuat baru. Tapi bagaimana kita memanfaatkan kondisi yang ada tanpa membutuhkan biaya yang besar, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan transformasi digital itu secara maksimal,” pungkas Ronny.

Melalui pengintegrasian aplikasi serta penyediaan pelatihan secara digital, Diskominfo Staper Kutim berharap Terpadu Digital Kutim dapat memperluas jangkauan pelayanan publik sekaligus mendukung efisiensi anggaran dan percepatan transformasi digital di Kutim. []

Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *