Wawali Balikpapan Bagus Susetyo mendorong pengawasan anak dan remaja diperkuat melalui keterlibatan sekolah, Forkopimda, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat menyusul munculnya kasus dugaan pelanggaran yang melibatkan guru dan siswa.
BALIKPAPAN – Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan Bagus Susetyo mendorong penguatan pengawasan terhadap anak dan remaja, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat, menyusul adanya kasus dugaan pelanggaran perilaku yang melibatkan seorang guru dan siswa.
Bagus menilai pencegahan tidak cukup hanya dibebankan kepada sekolah. Pengawasan perlu melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sekolah, keluarga, hingga tokoh agama dan masyarakat.
“Kita usulkan ke Pak Wali Kota untuk bisa rapat dengan Forkopimda, bagaimana memonitor, bagaimana harus turun ke lingkungan atau turun ke masyarakat untuk menahan atau mengurangi, kalau perlu menghilangkan pengaruh-pengaruh negatif terhadap anak-anak kita,” kata Bagus saat diwawancarai di lobi Pemkot Balikpapan, Kamis (01/10/2026).
Menurut Bagus, upaya pencegahan juga dapat diperkuat melalui pendekatan keagamaan dan pembinaan di lingkungan masyarakat. Masjid, ustaz, khatib dalam khotbah Jumat, hingga kegiatan taklim dinilai dapat menjadi ruang untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga anak dan remaja dari berbagai pengaruh negatif.
Selain pengawasan terhadap siswa, Bagus menyoroti pentingnya mekanisme perekrutan dan penempatan tenaga pendidik. Menurutnya, setiap tenaga pendidik semestinya melalui tahapan seleksi dan wawancara serta diketahui pihak sekolah dan jajaran dinas terkait.
“Semua kan ada proses rekrutmen, ada proses wawancara. Kepala sekolah juga harus tahu, kepala dinas juga harus tahu,” ujarnya.
Bagus juga mendorong sekolah meningkatkan pemantauan terhadap perilaku dan interaksi di lingkungan pendidikan. Pemkot Balikpapan, menurut dia, dapat memperkuat langkah tersebut melalui surat edaran atau imbauan kepada sekolah agar pengawasan dilakukan secara berkelanjutan.
Langkah evaluasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat pencegahan sekaligus menjaga lingkungan pendidikan tetap aman bagi anak dan remaja. Namun, Bagus mengingatkan agar munculnya kasus tertentu tidak langsung dijadikan kesimpulan bahwa sistem pengawasan secara keseluruhan telah gagal.
“Bukan berarti satu dua kejadian itu sistemnya gagal, tetapi pengawasan memang harus kita tingkatkan,” pungkasnya. []
Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan