Inovasi Cantik di Kelurahan Kanaan mengandalkan intervensi 56 hari berbasis data dan kolaborasi pemerintah, kader posyandu, RT, keluarga, masyarakat, serta dunia usaha untuk menangani 21 anak yang masih masuk kategori stunting.
BONTANG – Penanganan 21 anak yang masih masuk kategori stunting di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Kota Bontang, diarahkan melalui intervensi selama 56 hari dengan melibatkan pemerintah, kader posyandu, ketua RT, keluarga, dan masyarakat. Pola penanganan berbasis data hingga tingkat lingkungan tersebut dijalankan melalui Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting).
Program itu diluncurkan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni di Kanaan, Kamis (01/10/2026). Intervensi ditujukan untuk mempercepat penanganan anak yang masih mengalami stunting sekaligus memperkuat pemantauan tumbuh kembang secara langsung di lingkungan tempat tinggal.
Neni mengatakan jumlah kasus yang tersisa di Kanaan perlu ditangani secara bersama-sama karena cakupannya relatif kecil dibandingkan jumlah penduduk di wilayah tersebut.
“Kanaan ini wilayahnya kecil, penduduknya fluktuatif antara 3.000 sampai 5.000 jiwa. Dengan sisa 21 kasus stunting, masa kita tidak bisa selesaikan? Target kita di sini harus zero stunting,” tegas Neni.
Sebagaimana diberitakan Bontangpost, Kamis, (01/10/2026), prevalensi stunting di Kanaan tercatat 7,8 persen, lebih rendah dibandingkan prevalensi stunting Kota Bontang sebesar 14,05 persen. Data tersebut berasal dari penimbangan serentak terhadap 9.884 balita di seluruh wilayah Bontang, dengan 1.389 anak tercatat masuk kategori stunting.
Dalam pelaksanaannya, Inovasi Cantik menggunakan pendekatan yang melibatkan unsur di luar tenaga kesehatan. Pemantauan kondisi anak dan keluarga dilakukan bersama dengan dukungan kader posyandu, ketua RT, aparatur kelurahan, serta masyarakat.
“Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama,” ujarnya.
Neni juga meminta pemantauan dilakukan berdasarkan data by name by address. Pendekatan tersebut diharapkan membuat identitas anak yang membutuhkan intervensi dapat diketahui secara jelas sehingga pendampingan dan penanganan bisa diarahkan sesuai kondisi masing-masing keluarga.
Peran perangkat lingkungan menjadi bagian penting dalam mekanisme tersebut. Ketua RT, kader posyandu, dan aparatur kelurahan didorong aktif mengawasi kondisi warga serta menyampaikan laporan apabila menemukan persoalan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kolaborasi juga diperluas dengan melibatkan sektor dunia usaha. Neni mengapresiasi perusahaan yang ikut mendukung penanganan stunting di Bontang, termasuk PT Kaltim Parna Industri (KPI).
“Saya mengucapkan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan di Bontang, seperti PT KPI, yang sudah ikut turun tangan. Kolaborasi ini sangat dibutuhkan,” katanya.
Peluncuran Inovasi Cantik turut dihadiri Lurah Kanaan Hermin Della, perwakilan Kecamatan Bontang Barat, Direktur Human Resources Development dan General Affairs (HRD & GA) PT KPI Budi Dermawan, Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang Lulyana Ramdhani, ketua RT, serta kader posyandu.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama dan peninjauan pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) bagi kader posyandu. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Melalui intervensi 56 hari, Pemkot Bontang menargetkan 21 kasus stunting di Kanaan dapat ditangani secara lebih terarah melalui pemantauan berbasis data dan kolaborasi lintas unsur. Model tersebut diharapkan memperkuat penanganan stunting dari tingkat kelurahan hingga lingkungan keluarga. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan